Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Elegi Fajar yang Menangis

Malam kembali merebahkan sunyinya di dada Ketika bayangmu menolak untuk mereda "Peluklah rindu ini serta kirim cinta dalam mimpimu hingga fajar tiba" Bisikku pada angin, yang berlalu tanpa kata Di sudut kamar yang kian mendingin Aku merajut sepi dari sisa-sisa kenangan kemarin Menatap langit langit yang kian menggelap Membiarkan seluruh pertahananku perlahan lenyap Dinding-dinding seolah ikut bicara Tentang tawa kita yang kini menjadi cedera Setiap sudut melahirkan bayang wajahmu Membuat dada ini sesak, dihantam pilu Satu tetes hangat mulai runtuh di pipi Mengalir pelan, membawa perih yang tak bertepi Betapa jarak adalah belati yang paling tajam Menusuk sukma di setiap gulita malam Aku mencari caramu mendekap luka Namun yang kutemukan hanya ruang hampa Suaramu menggema di dalam kepala Membuat air mata ini luruh, deras tak terkira Tidurku kini hanyalah ritual memohon waktu Agar dalam lelap, kita tak lagi terbelenggu Namun setiap kali mataku terpejam erat Rasa kehilangan ini ju...

Pelabuhan Terakhir di Mataku

Senyummu adalah simfoni pagi, Yang menghapus sisa dinginnya malam, Dalam dekapanmu, gelisah pun pergi, Mengganti lara dengan damai yang dalam. ​ Terima kasih untuk jemari yang setia, Menuntun hari melewati badai dan duri, Menjadi ibu, kekasih, dan belahan jiwa, Bidadari nyata yang kuakui setiap hari. ​ Hingga rambut kita memutih bersama, Dan waktu perlahan mengikis usia, Cintaku padamu takkan berkurang rasa, Kaulah takdir terindah dalam hidupku, wahai istriku tercinta.

Menangis dalam Syukur

Di bawah atap bocor yang lelah bercerita, Kita duduk melingkar dalam remang pelita. Ada aroma nasi hangat yang baru matang, Menghapus semua letih yang sempat bertandang. Ayah tersenyum, menyeka peluh di dahinya, Melihat tawa adik yang lepas tanpa jeda. Ibu melipat doa di sudut sajadah tua, Berbisik lirih, berterima kasih pada Semesta. Tak ada emas permata di dinding rumah kita, Hanya guratan tawa dan dongeng sebelum mata terjaga. Namun malam ini, dada ini terasa begitu penuh, Oleh damai yang utuh, tanpa ada yang runtuh. Aku menatap wajah-wajah yang teramat kucinta, Mengapa ada air mata yang jatuh tanpa diminta? Bukan karena lara, bukan karena duka yang mampir, Tapi karena bahagia ini begitu megah mengalir. Kita begitu miskin dari kemewahan dunia, Namun mengapa surga rasanya menetap di dada? Tak ada celah bagi sedih untuk menyelinap, Semua perih masalalu seketika lenyap. Tangan-tangan mungil bertautan begitu erat, Seolah waktu berhenti dan tak lagi menjerat. Dinding bambu ini saksi pali...

Aliran Kenangan Masa Kecil

Matahari pagi menyapa dengan hangat, Langkah kaki berlari tanpa alas rata, Menuju sungai jernih yang memikat, Tempat tertumpah segala tawa dan cerita. Airnya bening laksana kaca murni, Menampakkan kerikil berkejaran di dasar, Kami melompat bersama tanpa ragu di hati, Menyambut kesegaran dengan sorak yang bergetar. Cipratan air menjadi senjata perang, Gelak tawa bergema di antara pepohonan, Tak ada beban, tak ada hati yang bimbang, Hanya ada bahagia dalam sebuah lingkaran. Kami menyelam mengejar ikan-ikan kecil, Lalu hanyut terbawa arus yang tenang, Tubuh menggigil, jemari pun mulai mengecil, Namun tak satu pun berniat untuk pulang. Di atas batu besar kami bersandar, Membiarkan angin mengeringkan badan, Saling berbagi mimpi yang berpijar, Tentang masa depan yang penuh harapan. Kini sungai itu telah jauh di mata, Terpisah jarak dan waktu yang mendesak, Namun kenangan mandi bersama takkan sirna, Tetap abadi dalam dada yang sesak. Wahai sahabat-sahabat masa kecilku, Meski dunia kini telah ...

Surat yang Berlayar ke Langit

Dunia di luar sana terbungkus salju perak yang dingin Membekukan waktu, mengunci detak angin Di balik kaca jendela yang mulai berembun Kulihat putihnya rindu jatuh berduyun-duyun ​ ​Kutarik napas dalam dan kembali menuliskan namamu Di atas kertas putih yang menjadi saksi bisu Setiap lengkung hurufnya memanggil bayangmu kembali Menghidupkan sosok yang amat kurindukan setengah mati ​ ​Sedikit getaran jemari mengingatkanku di mana luka itu bermula Saat genggamanmu perlahan lepas dan kita menjadi tiada Pena ini berguncang, menahan perih yang belum juga usai Meratapi kisah indah kita yang terlanjur terai-berai ​ ​Malam-malam begitu panjang, namun kenangan tetap hangat dan nyata Ia menjadi selimut di kala tubuhku menggigil tersiksa Senyummu, tawamu, dan caramu menatap mataku Masih tersimpan utuh, menolak mati dimakan waktu ​Dan setiap momen yang sunyi seolah menuntunku kembali padamu Di tengah sepinya kamar, suaramu menggema samar dan syahdu Tak ada tempat pelarian yang ...

Elegi Sang Pengingat

Di sudut ingatan yang paling sunyi, Wajahmu hadir seperti mimpi pagi, Pernah menjadi cahaya yang paling murni, Sebelum akhirnya kau memilih pergi. ​Dulu hariku penuh dengan warnamu, Setiap tawa adalah bait yang syahdu, Dunia terasa sempit hanya untuk kita berdua, Mengukir janji di bawah langit yang sama. ​ Kau adalah payung saat hujan menderu, Menghalau dingin yang sempat membiru, Hadirmu bukan sekadar singgah sebentar, Tapi detak yang membuat hidup kian berpijar. ​Namun waktu adalah pencuri yang ulung, Membawa pergi apa yang sempat menggunung, Perlahan jarak mulai membangun temboknya, Hingga sapa berubah menjadi hampa. ​ Kini namamu hanyalah sebuah aksara, Tertulis di lembar masa lalu yang kusam pula, Tak ada lagi dering pesan di tengah malam, Hanya sunyi yang kian terasa mendalam. ​ Aku belajar bahwa tak semua yang datang akan menetap, Ada yang hadir hanya untuk membuat kita sigap, Bahwa keindahan terkadang punya batas waktu, Dan melepaskan adalah cara untuk te...

Menara Sepi di Batas Langit

Di pundaknya bertengger awan yang luruh, Tiang besi berdiri tegak namun rapuh. Ia memahat bayang pada tanah yang kering, Mendengar bisik angin yang berdesing nyaring. ​Tubuhnya dingin merangkul kawat sengkang, Menatap senja yang perlahan mulai lekang. Tak ada detak jantung di dada yang kelabu, Hanya gema sunyi di sela kerangka kaku. ​Ia perantara rindu yang tak pernah sampai, Mengirim suara-suara yang kian lunglai. Namun ia sendiri, terpasung dalam sepi, Tak punya kawan bicara di sunyinya tepi. ​Lampu merah di puncaknya berkedip pelan, Seperti mata yang lelah menanggung beban. Menjaga cakrawala dari gelap yang pekat, Meski jiwanya sendiri kian berkarat. ​Hujan seringkali datang memeluk badannya, Mencuci debu tapi tak hapus duka di hatinya. Ia basah dalam diam yang paling rahasia, Di antara riuh sinyal yang memburu dunia. ​ Bintang-bintang jauh enggan mampir menyapa, Hanya kunang-kunang listrik yang berpura-pura. Menemani kesendirian di tengah padang luas, Di bawa...

Elegi di Ambang Sunyi

Di pojok kamar, lagu itu berputar tanpa henti, melodi lama yang kini jadi belati paling tajam. Aku masih menunggumu di sela denting yang sunyi, lupa bahwa ragamu sudah lama dipeluk malam. ​Kau pergi terlalu lekas, sebelum sempat pamit, meninggalkan kursi kosong dan gelas yang mendingin. Kini napasku hanyalah sisa-sisa sesak yang pahit, terhempas ke dinding rumah yang dipenuhi angin. ​Aku menapaki kembali setiap baris surat lama, seperti jejak kaki yang hilang tertimbun salju. Makin aku melangkah, makin terasa hampa, karena jalan ini hanya menuntun pada ketiadaanmu. ​Dulu, sentuhanmu adalah peta untuk aku bernapas, mengajariku bahwa hidup bukan sekadar detak jantung. Kini peta itu koyak, arahku benar-benar lepas, tercecer di antara kenangan yang kini menggantung. ​Kupejamkan mata, mencoba mencuri sedikit hangatmu, berpura-pura kau masih di sini, membisikkan doa. Namun yang kutemukan hanyalah gelap yang membeku, dan kenyataan bahwa aku kini benar-benar sendiri saja. ​A...

Bara dalam Dingin

Jarum jam sudah jauh melangkah, Meninggalkan jejak perih yang lebam. Seharusnya dendam ini sudah punah, Terkubur sunyi di balik malam. ​Logika bilang ini sudah usang, Tak perlu lagi memacu jantung. Namun di dada, ombak masih menerjang, Mencari sandaran tempat bernaung. ​Ingin kumaki bayang yang lewat, Tapi lidah terlanjur kelu membatu. Waktu memaksa aku terlihat kuat, Meski di dalam, remuk tak menentu. ​Ada api yang menolak padam, Meski disiram ribuan alasan. Ruang hatiku penuh sisa dendam, Yang tak sempat menemukan lisan. ​Setiap kali aku mencoba lari, Rasa itu menarikku kembali pulang. Menagih janji pada diri sendiri, Tentang keadilan yang tak kunjung datang. ​ Benci ini seperti tamu tak diundang, Mengetuk pintu saat aku tenang. Memaksa ingatan kembali memandang, Luka lama yang kini meradang. ​Mungkin aku hanya butuh mengadu, Pada sunyi yang tak pernah menghakimi. Tentang rasa marah yang kian beradu, Antara memaafkan atau membenci. ​Biarlah ia mengalir per...

Pesan Sang Hujan

Di balik mendung yang hitam kelam, Hujan turun menyentuh bumi yang diam. Jangan kau ratapi tetes yang jatuh berserakan, Sebab ada kehidupan yang sedang ia siapkan. Hujan berkata dalam bisikannya yang lirih, Jangan kau hitung luka dan pedih yang perih Bukan tentang apa yang hilang tertelan tanah, Tapi tentang doa-doa yang mulai merekah. ​Lihatlah benih yang dulu tersembunyi sunyi, Kini terbangun karena siraman yang murni. Tanah yang kering kini kembali membasah, Membasuh segala lelah dan jiwa yang resah. ​Sesuatu yang gugur bukanlah tanda akhir cerita, Ia hanya jalan pembuka bagi hadirnya sukacita. Mungkin hari ini kau merasa banyak yang hilang, Namun lihatlah esok bunga-bunga akan datang. Setiap tetesan membawa janji yang suci, Tentang yunas hijau yang takkan lagi membenci. Jangan terpaku pada air yang membasahi pipi, Lihatlah warna pelangi yang akan kembali bersemi. ​Akar yang kuat butuh air untuk terus berjuang, Menembus gelap hingga menemukan cahaya terang. Apa yan...