Menangis dalam Syukur
Di bawah atap bocor yang lelah bercerita,
Kita duduk melingkar dalam remang pelita.
Ada aroma nasi hangat yang baru matang,
Menghapus semua letih yang sempat bertandang.
Ayah tersenyum, menyeka peluh di dahinya,
Melihat tawa adik yang lepas tanpa jeda.
Ibu melipat doa di sudut sajadah tua,
Berbisik lirih, berterima kasih pada Semesta.
Tak ada emas permata di dinding rumah kita,
Hanya guratan tawa dan dongeng sebelum mata terjaga.
Namun malam ini, dada ini terasa begitu penuh,
Oleh damai yang utuh, tanpa ada yang runtuh.
Aku menatap wajah-wajah yang teramat kucinta,
Mengapa ada air mata yang jatuh tanpa diminta?
Bukan karena lara, bukan karena duka yang mampir,
Tapi karena bahagia ini begitu megah mengalir.
Kita begitu miskin dari kemewahan dunia,
Namun mengapa surga rasanya menetap di dada?
Tak ada celah bagi sedih untuk menyelinap,
Semua perih masalalu seketika lenyap.
Tangan-tangan mungil bertautan begitu erat,
Seolah waktu berhenti dan tak lagi menjerat.
Dinding bambu ini saksi paling setia,
Bahwa bahagia tak butuh mahkota dunia.
Tuhan, jika ini adalah sebuah mimpi yang fana,
Jangan bangunkan kami dari malam yang sempurna.
Biar kami abadi dalam pelukan yang hangat,
Di mana cinta menjadi satu-satunya penyemangat.
Sunyi malam menari di luar jendela kaca,
Membawa damai yang tak mampu dieja kata.
Hanya ada deru napas kita yang seirama,
Dalam istana kecil yang penuh dengan sesama.
Saking bahagianya, relung hatiku jadi ngilu,
Mengingat betapa indahnya detik yang lalu.
Sebuah keluarga kecil yang saling menjunjung,
Di bawah langit malam yang memeluk teduh berlindung.
Kita menutup hari dengan senyum paling tulus,
Sembari membiarkan rasa syukur ini terus mengalir kudus.
Tanpa sedih, tanpa air mata yang terluka,
Hanya ada kita, dan bahagia yang tiada tara.
Komentar
Posting Komentar