Pesan Sang Hujan

Di balik mendung yang hitam kelam,

Hujan turun menyentuh bumi yang diam.

Jangan kau ratapi tetes yang jatuh berserakan,

Sebab ada kehidupan yang sedang ia siapkan.


Hujan berkata dalam bisikannya yang lirih,

Jangan kau hitung luka dan pedih yang perih

Bukan tentang apa yang hilang tertelan tanah,

Tapi tentang doa-doa yang mulai merekah.


​Lihatlah benih yang dulu tersembunyi sunyi,

Kini terbangun karena siraman yang murni.

Tanah yang kering kini kembali membasah,

Membasuh segala lelah dan jiwa yang resah.


​Sesuatu yang gugur bukanlah tanda akhir cerita,

Ia hanya jalan pembuka bagi hadirnya sukacita.

Mungkin hari ini kau merasa banyak yang hilang,

Namun lihatlah esok bunga-bunga akan datang.


Setiap tetesan membawa janji yang suci,

Tentang yunas hijau yang takkan lagi membenci.

Jangan terpaku pada air yang membasahi pipi,

Lihatlah warna pelangi yang akan kembali bersemi.


​Akar yang kuat butuh air untuk terus berjuang,

Menembus gelap hingga menemukan cahaya terang.

Apa yang jatuh ke bumi hanyalah sebuah pengabdian,

Demi tumbuhnya harapan di tengah sebuah penantian.


​Dunia mungkin melihatmu hancur dan luruh,

Tapi hujan melihatmu sebagai jiwa yang tangguh.

Ada yang harus dilepaskan agar kau bisa bertumbuh,

Menjadi pohon yang rimbun dan tak lagi rapuh.


Dengar iramanya yang jatuh diatas atap, 

Ia menghapus duka yang selama ini kau dekap.

Jangan biarkan matamu hanya menatap yang rendah,

Pandanglah ke depan, hidupmu akan menjadi indah.


​Karena setiap badai punya batas waktu tersendiri,

Menyisakan taman yang segar dan wangi pagi hari.

Hujan tak pernah bermaksud untuk menyakiti hati,

Ia datang agar cinta dalam jiwamu takkan mati.

Maka tersenyumlah saat langit mulai meneteskan airnya,

Sambutlah ia dengan syukur dan penuh rasa percaya.

Sebab yang jatuh akan diganti dengan yang bersemi,

Mewarnai seluruh sudut di hamparan luasnya bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA