Elegi Fajar yang Menangis

Malam kembali merebahkan sunyinya di dada

Ketika bayangmu menolak untuk mereda

"Peluklah rindu ini serta kirim cinta dalam mimpimu hingga fajar tiba"

Bisikku pada angin, yang berlalu tanpa kata


Di sudut kamar yang kian mendingin

Aku merajut sepi dari sisa-sisa kenangan kemarin

Menatap langit langit yang kian menggelap

Membiarkan seluruh pertahananku perlahan lenyap


Dinding-dinding seolah ikut bicara

Tentang tawa kita yang kini menjadi cedera

Setiap sudut melahirkan bayang wajahmu

Membuat dada ini sesak, dihantam pilu


Satu tetes hangat mulai runtuh di pipi

Mengalir pelan, membawa perih yang tak bertepi

Betapa jarak adalah belati yang paling tajam

Menusuk sukma di setiap gulita malam


Aku mencari caramu mendekap luka

Namun yang kutemukan hanya ruang hampa

Suaramu menggema di dalam kepala

Membuat air mata ini luruh, deras tak terkira


Tidurku kini hanyalah ritual memohon waktu

Agar dalam lelap, kita tak lagi terbelenggu

Namun setiap kali mataku terpejam erat

Rasa kehilangan ini justru semakin mengikat


Mengapa rindu harus sekejam ini terasa?

Menyiksa jiwa yang tak lagi punya daya

Cintamu yang dulu menjadi tempatku pulang

Kini menjelma sejuta sesal yang tak kunjung hilang


Hingga fajar nanti membasuh langit yang kelam

Aku akan tetap menangis di balik malam

Memeluk perih ini seorang diri

Hingga sisa air mata ini habis tak bersisa lagi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA