Bara dalam Dingin
Jarum jam sudah jauh melangkah,
Meninggalkan jejak perih yang lebam.
Seharusnya dendam ini sudah punah,
Terkubur sunyi di balik malam.
Logika bilang ini sudah usang,
Tak perlu lagi memacu jantung.
Namun di dada, ombak masih menerjang,
Mencari sandaran tempat bernaung.
Ingin kumaki bayang yang lewat,
Tapi lidah terlanjur kelu membatu.
Waktu memaksa aku terlihat kuat,
Meski di dalam, remuk tak menentu.
Ada api yang menolak padam,
Meski disiram ribuan alasan.
Ruang hatiku penuh sisa dendam,
Yang tak sempat menemukan lisan.
Setiap kali aku mencoba lari,
Rasa itu menarikku kembali pulang.
Menagih janji pada diri sendiri,
Tentang keadilan yang tak kunjung datang.
Benci ini seperti tamu tak diundang,
Mengetuk pintu saat aku tenang.
Memaksa ingatan kembali memandang,
Luka lama yang kini meradang.
Mungkin aku hanya butuh mengadu,
Pada sunyi yang tak pernah menghakimi.
Tentang rasa marah yang kian beradu,
Antara memaafkan atau membenci.
Biarlah ia mengalir perlahan,
Menjadi abu yang ditiup angin.
Hingga habis sisa segala keluhan,
Dan hatiku kembali menjadi dingin.
Komentar
Posting Komentar