Postingan

Kenapa aku dilahirkan didunia

Aku terbangun di remang pagi, Mata terbuka, menatap sepi. Langkah terhenti di persimpangan, Mencari arah yang samar dalam bayangan. Hari terasa begitu berat, Beban menumpuk, mengikat erat. Sunyi merayap menyusup kalbu, Menyisakan desah pasrah dan ragu. Tak ada bahu tempat bersandar, Di tengah badai yang kian membesar. Berdiri sendiri menahan tegap, Meski langkah terasa kian merayap. Tak ada hati yang mau mengerti, Jeritan sunyi di dalam diri. Kata-kata terkunci di balik bibir, Hanya gulana yang pelan mengalir. Namun napas ini masih bertiup, Di antara redupnya jalan hidup. Menatap jarak yang belum nyata, Perlahan merangkai sisa-sisa asa. Biarlah sunyi menjadi teman, Kuberanikan diri menembus kabut malam. Sebab arah takkan pernah hadir, Jika ku berhenti sebelum akhir.

Sisa Napas Sebelum Berpulang

Di ujung malam yang kian dingin dan sunyi, Kutatap wajahmu yang terlelap dalam mimpi. Ingin rasanya Ayah hentikan waktu di sini, Menahan perih yang perlahan mengikis diri. ​ ​Namun tubuh ini tak lagi mampu berdusta, Ada batas yang tak kuasa Ayah lawan dengan doa. Dunia ini kejam, dan Ayah benci harus menyerah, Meninggalkanmu bertarung sendiri di tengah lelah. ​ ​Maaf karena pundak ini harus runtuh lebih awal, Meninggalkan pelukan yang belum sempat kekal. Di hembusan angin yang menyentuh pipi, Ketahuilah, itu adalah cinta Ayah yang tak pernah mati.

Aku Sedang Kehilangan Diriku

Di ruang sunyi yang kian menderu, Aku berdiri, menatap bayang yang membisu Ada yang asing di balik cermin itu Perlahan pudar, tergerus oleh waktu ​Aku tak lagi mengenali tawaku yang dulu Lenyap tertimbun gelisah yang membelenggu Jejak-jejak impianku kini terbawa angin lalu Sungguh, aku sedang kehilangan diriku ​Namun di tengah badai yang mencabik dada Saat seluruh duniaku tak lagi sama Ada satu poros tempatku bersandar pasrah Senyummu, binar matamu, dan seluruh jiwamu ​Jika semesta memaksaku memilih satu nestapa Biarlah kuarungi sunyi tanpa nama Sebab lebih baik aku kehilangan diriku Daripada aku harus kehilangan dirimu ​Biarlah aku menjadi asing bagi ragaku sendiri Asalkan pelukmu tetap menjadi rumah tempatku kembali Karena kehilanganmu adalah runtuhnya duniaku Sementara kehilangan diriku... hanyalah caraku untuk seutuhnya mencintaimu

Tak Takut Kehilangan Terang

Di bawah langit yang perlahan luruh, Malam merayap membawa sunyi yang utuh. Namun di sisimu, gulita tak lagi terasa penuh, Sebab genggammu adalah rumah tempatku berteduh. ​ Jika kita gelap bersama, Aku tak takut kehilangan terang. Sebab di matamu, ada binar yang tak pernah linang, Menuntun langkahku yang sempat bimbang dan hilang. ​Biar malam menghapus seluruh warna dunia, Asalkan detak jantungmu masih mengeja setia. Aku tak butuh cahaya yang berpura-pura, Jika berselimut sepi, kita mampu merajut bahagia. ​ Dan jangan kau jadi senja, Yang hilang tanpa suara. Meninggalkan jingga yang berubah menjadi luka, Membiarkan sepi merajai dada tanpa menyapa. ​Tetaplah di sini, meski malam kian kelam, Menjadi abadi dalam pelukan yang mendalam. Bersamamu, dalam gelap pun jiwaku tenteram, Sebab kamulah pelita yang takkan pernah padam.

Rumah Tanpa Pelukan

Di balik jendela kaca yang basah, Kulihat mereka tertawa renyah. Seorang anak di pelukan ayahnya, Penuh dengan cinta dan bahagia. ​Sementara aku berdiri di sini, Ditemani sepi yang kian merajai. Langkah kakiku terasa begitu berat, Menuju rumah yang terasa senyap dan pekat. ​Mengapa nasibku harus berbeda, Melihat mereka ceria bergembira? Aku pulang hanya membawa sunyi, Mengubur mimpi yang layu di hati. ​Aku juga ingin dijemput pulang, Saat senja mulai datang menjelang. Menanti sosok yang selalu dinanti, Bukan berjalan sendirian seperti ini. ​Ingin rasanya saat ku tertidur lelap, Ada tangan hangat yang mendekap. Digendong lembut menuju ke kamar, Membuat jiwaku yang rapuh berbinar. ​Namun semua hanyalah bayangan, Sebuah angan di dalam lamunan. Kasur yang dingin menyambut ragaku, Menemani tangis di dalam batin pembenciku. ​Aku ini hanyalah anak kecil, Menghadapi dunia yang begitu labil. Butuh bimbingan dan juga belaian, Bukan sekadar sebuah pengabaian. ​Mengapa ...

Dekapan yang Hilang Sebelum Datang

Kata orang, engkau menangis saat aku lahir ke bumi,  Sebuah air mata bahagia bercampur rasa nyeri. Namun, mengapa saat mataku terbuka melihat hari, Tubuh mungil ini justru dipaksa melangkah pergi? Aku dibawa melangkah jauh, memutus jarak dan ruang,  Meninggalkan wangimu yang bahkan belum sempat kukenang. Dunia begitu terburu-buru merenggutku dari pelukan,  Meninggalkan sepi yang panjang dalam ketidaktahuan.   Ibu, aku bahkan belum sempat mendengar suaramu yang lirih,  Menyebut sebuah nama yang kausiapkan dengan perih.  Nama yang mungkin kau bisikkan dalam setiap doa malam, kini terkubur bersama rindu yang kian mendalam.   Belum sempat pula aku bersandar di hangat dadamu, Mendengar detak jantung yang dulu menuntun jalanku.  Dada yang seharusnya menjadi tempatku pulang dan rebah,  kini menjelma jadi jarak yang membuat hatiku patah.   Dunia ini teramat kejam dalam membuat keputusan, Memisahkan kita sebelum sempat ego saling b...

Senyummu Hari Ini Adalah Semangatku Seumur Hidup

Ketika fajar menyapa bumi dengan malu-malu, Kulihat lengkung indah di ranum bibirmu. Sederhana, namun sanggup meruntuhkan ragu, Mengusir pekat malam yang sempat membelenggu. ​Satu detik tatapan, satu rekah yang tulus, Mampu menghapus lara yang datang menghunus. Bagaikan embun pagi yang sejuk mengalir lurus, Membasuh jiwa yang lelah agar tak pupus. ​ Senyummu hari ini adalah sebuah prasasti, Yang kupahat dalam-dalam di lubuk hati. Ia bukan sekadar hiasan wajah yang berganti, Melainkan lentera yang takkan pernah mati. ​ Dunia mungkin riuh dengan sejuta tuntutan, Kerap membawa langkahku dalam ketakutan. Namun mengingat senyummu di dalam ingatan, Seketika runtuhlah segala beban dan hambatan. ​Biarpun waktu merayap dan usia kian menua, Walau raga melemah ditelan sang kala. Akan tetapi senyummu tetap menyala, Menjadi bahan bakar bagi jiwa yang meronta. ​Hari ini kau tersenyum, meretas segala redup, Menjadi kompas pelindung di kala badai bertiup. Ketahuilah kasih, setiti...