Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Abadi dalam Bait Rindu

Aku tuliskan namamu di setiap hela nafas, Meski kisah kita kini telah terlepas. Biarlah tinta ini menjadi saksi bisu, Tentang rasa yang tak pernah menjadi palsu. ​ Hati kita memang tak lagi beriringan, Hanya menyisakan perih dalam kenangan. Namun rindu ini enggan untuk beranjak, Masih tersimpan rapi meski hati retak. ​ Dulu kita adalah satu dalam janji yang suci, Kini tinggal bayang yang hadir dalam mimpi. Aku mengukir wajahmu di dinding kalbu, Walau kini kau bukan lagi milikku yang dulu. ​ Malam terasa dingin tanpa hangat sapaanmu, Hanya sepi yang datang menjemput dukaku. Namamu tetap menjadi bait paling syahdu, Di tengah hatiku yang kini kian membiru. ​ Tak ada lagi tangan yang saling menggenggam, Hanya luka yang kian hari kian menghujam. Aku merajut rindu ini menjadi sebuah puisi, Agar namamu tetap hidup meski aku tersisih. ​Biarlah takdir membawa kita ke jalan berbeda, Meski cintaku kepadamu tak pernah mereda. Aku puisikan namamu dengan penuh ketulusan, Sebag...

Di Bawah Langit Baitullah: Doa untuk Ayah dan Ibu

Di ambang fajar yang membawa rindu, Kulihat koper tertata, hati beradu, Antara bangga dan tangis yang membiru, Melepas langkahmu ke tanah yang syahdu. ​Kusematkan doa di tiap helai ihrammu, Agar lelah tak menghampiri pundakmu, Biarlah malaikat menjaga derap langkahmu, Di padang Arafah, di bawah langit biru. ​Tiada aral yang melintang menghalangi, Segala rukun dimudahkan Ilahi, Tubuh yang renta dikuatkan kembali, Menjemput berkah di rumah Sang Pemberi. ​ Ayah, Ibu, dalam tawaf yang berputar, Sebutlah namaku saat hatimu bergetar, Di antara jutaan hamba yang bersujud sabar, Semoga ampunan Allah turun melebar. ​ Pulanglah nanti dengan wajah berseri, Membawa gelar mabrur yang hakiki, Haji yang diterima, suci kembali, Bagaikan bayi yang baru lahir ke bumi. ​ Selamat jalan penyejuk jiwa dan raga, Kutitipkan kalian pada Pemilik Semesta, Hingga kita kembali berjumpa di depan mata, Membawa cerita tentang indahnya surga.

Simfoni Bambu dan Lumpur

Di ujung jalan setapak yang berdebu, Kenangan lama memanggil namaku, Tentang sebuah desa di peluk rindu, Tempat waktu berjalan malu-malu. ​Sawah membentang hijau permadani, Pematangnya licin dipijak kaki, Tanpa alas kita berlari-lari, Mengejar capung di bawah matahari. ​Angin berbisik di antara padi, Membawa aroma tanah yang murni, Tak ada beban di dalam hati, Hanya tawa yang tak kunjung terhenti. ​Di pinggir kali yang jernih airnya, Kita berenang tanpa ada rahasia, Melompat dari dahan pohon tua, Mencari ikan di sela bebatuan gua. ​Bambu dipotong menjadi bedil, Pelurunya kertas atau buah kancil, Kita berperang bak pahlawan kecil, Meski dunia terasa begitu mungil. ​Ingatkah kau pada pletokan sakti? Suaranya nyaring membelah sunyi, Dibuat dengan segenap hati, Mainan mewah di masa itu hari. ​Ada rautan kayu menjadi gasing, Berputar kencang tak kenal pening, Di atas tanah kita bertanding, Sorak sorai bergema nyaring. ​Mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, Atau k...

Topeng Cahaya di Balik Kelabu

Di panggung ramai aku menari, Memakai topeng bermulut pelangi, Menyembunyikan retak yang kian meninggi, Agar riuh tawa kalian tak lekas mati. ​Aku adalah dermaga yang tampak tenang, Meski di dasarnya badai sedang berperang, Menelan kerikil tajam yang tak kunjung hilang, Hanya demi melihat perahu kalian pulang dengan riang. ​Biarlah pilu ini menjadi akar yang sunyi, Tertanam dalam tanpa perlu ada yang mengenali, Sebab bagiku, senyum kalian adalah harga mati, Meski hatiku sendiri lebam dipukul sepi. ​Suaraku nyaring memecah hening malam, Menutup isak yang sebenarnya mulai menghantam, Bak lentera tua yang cahayanya tetap tajam, Walau sumbunya hampir habis terbakar dendam. ​Jangan tanyakan apa yang ada di balik tawa, Sebab di sana hanya ada ruang tanpa sapa, Cukuplah kalian lihat aku sebagai bahagia, Agar pedihku tak jadi beban bagi semesta.

Langkah Kecil Menuju Makna

Di ujung jalan yang kian meredup Kucari sisa nafas yang kuncup Langkahku kecil beradu debu Membawa luka yang kian membiru Langit menghitam tanpa bicara Menyimpan duka sedalam samudera Aku berjalan dalam senyap Menahan perih yang kian menyergap Tiada lentera menerangi diri Hanya bayangmu yang menetap di hati Kugapai makna di balik lara Meski jiwaku hancur sengsara Dunia berpaling dari keluhku Menyisakan sepi di setiap langkahku Ingin kuberhenti namun tak bisa Sebab rindu masih bertahta di dada Setiap tapak adalah air mata Mengukir perih menjadi berita Makna terselip di balik duri Menanti aku kembali mandiri Namun lelahnya tak terlukiskan Oleh kata yang sering dibisikkan Jarak membentang sejauh doa Meninggalkan aku dalam kecewa Kaki gemetar menumpu harapan Di tengah badai dan kegelapan Mungkin esok cahaya kan tiba Menghapus duka di pelupuk mata Kini kubiarkan langkah tertatih Menuju makna yang tampak memutih Biarlah sedu menjadi kawan Hingga kutiba di keabadian

Cahaya di Balik Badai

Mentari terbit di ufuk timur, Membasuh bumi yang lelah tertidur. Menyapa pagi dengan harapan, Menghapus duka dalam dekapan. ​Hidup tak selalu lurus dan makmur, Ada kalanya nasib terkubur. Kadang jatuh dalam cobaan, Menguji jiwa dalam kesunyian. ​Air mengalir tenang di kali, Mencari muara tulus sekali. Batu menghadang tetap melaju, Tanpa ada rasa mengeluh dan pilu. ​Hidup mengajar tuk tetap tabah hati, Meski raga lelah setengah mati. Walau badai silih berganti, Keyakinan kuat takkan terhenti. ​Luka yang perih biarlah mengering, Di tengah malam yang sunyi dan hening. Sebab pelangi butuh rintik hujan, Untuk melukis sebuah keajaiban. ​Jangan menyerah pada nasib yang kelam, Meski dunia terasa tenggelam. Teruslah melangkah walau perlahan, Tuhan takkan ingkar pada sebuah haluan. ​Setiap air mata yang jatuh ke bumi, Adalah benih bagi sabar yang bersemi. Kelak engkau akan berdiri dengan megah, Setelah melewati jalan yang penuh lelah. ​Esok mentari akan kembali bersin...

Tabah dalam Menanti

Wahai hati dengarlah sebuah pesan, Jangan lagi kau pelihara kegelisahan. Berhenti bertanya siapa yang pulang, Sebab bayang masa lalu haruslah hilang. ​ Cukup sudah kau menghitung hari, Menunggu sosok yang telah pergi berlari. Tak perlu meratap di sunyinya malam, Memendam rindu yang kian menghujam. ​ Tuhan mendengar setiap doa yang lirih, Menghapus duka dan rasa yang perih. Dia sedang merajut kisah yang baru, Untuk mengganti segala pilu dan ragu. ​ Percayalah ada cinta yang sedang disiapkan, Yang takkan memberi luka dan kepahitan. Seseorang yang datang membawa tenang, Membuat semua trauma menjadi pemenang. ​ Cinta itu takkan membuatmu menangis lagi, Hadirnya bagai mentari di pagi hari. Dia menetap bukan sekadar mampir, Menghapus setiap tetes air mata yang mengalir. ​ Tenanglah wahai hati yang sedang gundah, Lepaskan semua beban yang terasa lelah. Dunia ini luas tak hanya soal dia, Masih banyak warna yang bisa kau raba. ​ Jangan biarkan dirimu terus terbelenggu, ...

Di Ambang Penantian yang Sunyi

Di sudut kamar yang lembap oleh sisa air mata, Kau masih saja memahat nama pada dinding hampa. Mengharap gema langkah yang sudah lama sirna, Di antara debu kenangan yang kian meraja. ​ Wahai hati, berhentilah bertanya pada sepi, Tentang siapa yang akan kembali mengetuk pintu ini. Dia telah jauh, larut dalam pelukan matahari, Meninggalkanmu terkunci dalam dinginnya janji. ​Jangan lagi kau cecar malam dengan tanya yang perih, Mengapa kasih yang kau jaga justru berujung selisih. Sebab semakin kau cari, lukamu kian mendidih, Hanya menyisakan detak yang ringkih dan letih. ​Percayalah, di balik kabut duka yang kau raba, Ada tangan Agung yang sedang merajut rencana. Tuhan tak tidur melihat sujudmu yang bersimbah doa, Dia sedang menyaring siapa yang benar-benar setia. ​Akan datang masanya, langitmu tak lagi kelabu, Tuhan siapkan cinta yang takkan membuatmu layu. Seseorang yang datang bukan untuk memberi pilu, Tapi membasuh luka yang selama ini membiru. ​Tenanglah hati, redam...

Pemilik yang Memanggil Pulang

Jangan biarkan air mata terus mengalir, Membasahi luka yang kian mengukir. Sebab cinta bukanlah milik kita seutuhnya, Ia hanya titipan dari Sang Pemilik Semesta. ​ Jika kini ia pergi dan kembali pulang, Jangan anggap duniamu akan hilang. Tuhan hanya mengambil apa yang Ia beri, Agar hatimu belajar berdiri sendiri. ​ Lepaskan genggaman dengan rasa ikhlas, Meski rindu datang tanpa berbalas. Dia yang menciptakan setiap debar di dada, Tahu kapan saatnya duka harus mereda. ​ Simpanlah sedihmu dalam doa yang sunyi, Sebab badai ini takkan selamanya menghuni. Ada rahasia indah di balik setiap kehilangan, Yang kelak menuntunmu pada ketenangan. ​Percayalah, kebahagiaan pasti 'kan tiba, Menghapus lara yang pernah bertahta. Atas kehendak-Nya yang tak pernah salah, Senyummu akan kembali merekah indah. ​ Tunggu saja waktu yang akan menjawab, Saat semua luka tak lagi terasa lembap. Akan ada hari di mana engkau bersyukur, Bahwa takdir-Nya tak pernah membuatmu hancur.

Sekuntum bunga di sebuah gurun

Di hamparan jingga yang membakar cakrawala, Tumbuh ganjil sesosok merah muda yang fana, Kelopak halus meraba angin penuh debu, Mencari sejuk di antara pasir yang menderu. Tiada sungai mengalir, hanya fatamorgana, Namun ia tegak menantang sang surya, Mahkota rapuh yang menyimpan sisa embun, Di negeri yang tak kenal musim yang berpantun. Akar-akar mencari celah di balik cadas, Menahan perih dari terik yang bernapas, Ia bukan mawar gurun yang penuh duri, Hanya pendatang asing yang rindu menyendiri. Malam datang membawa dingin yang menyayat, Sakura membeku, kelopaknya kian berat, Ia merindukan salju dan gunung yang tinggi, Bukan kesunyian luas yang tak bertepi. Sebelum fajar menyentuh ufuk yang gersang, Ia gugur pelan, menari ditiup gelombang, Menjadi noktah indah di perut sahara, Sebuah mimpi singkat tentang musim yang segera.