Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Tak Takut Kehilangan Terang

Di bawah langit yang perlahan luruh, Malam merayap membawa sunyi yang utuh. Namun di sisimu, gulita tak lagi terasa penuh, Sebab genggammu adalah rumah tempatku berteduh. ​ Jika kita gelap bersama, Aku tak takut kehilangan terang. Sebab di matamu, ada binar yang tak pernah linang, Menuntun langkahku yang sempat bimbang dan hilang. ​Biar malam menghapus seluruh warna dunia, Asalkan detak jantungmu masih mengeja setia. Aku tak butuh cahaya yang berpura-pura, Jika berselimut sepi, kita mampu merajut bahagia. ​ Dan jangan kau jadi senja, Yang hilang tanpa suara. Meninggalkan jingga yang berubah menjadi luka, Membiarkan sepi merajai dada tanpa menyapa. ​Tetaplah di sini, meski malam kian kelam, Menjadi abadi dalam pelukan yang mendalam. Bersamamu, dalam gelap pun jiwaku tenteram, Sebab kamulah pelita yang takkan pernah padam.

Rumah Tanpa Pelukan

Di balik jendela kaca yang basah, Kulihat mereka tertawa renyah. Seorang anak di pelukan ayahnya, Penuh dengan cinta dan bahagia. ​Sementara aku berdiri di sini, Ditemani sepi yang kian merajai. Langkah kakiku terasa begitu berat, Menuju rumah yang terasa senyap dan pekat. ​Mengapa nasibku harus berbeda, Melihat mereka ceria bergembira? Aku pulang hanya membawa sunyi, Mengubur mimpi yang layu di hati. ​Aku juga ingin dijemput pulang, Saat senja mulai datang menjelang. Menanti sosok yang selalu dinanti, Bukan berjalan sendirian seperti ini. ​Ingin rasanya saat ku tertidur lelap, Ada tangan hangat yang mendekap. Digendong lembut menuju ke kamar, Membuat jiwaku yang rapuh berbinar. ​Namun semua hanyalah bayangan, Sebuah angan di dalam lamunan. Kasur yang dingin menyambut ragaku, Menemani tangis di dalam batin pembenciku. ​Aku ini hanyalah anak kecil, Menghadapi dunia yang begitu labil. Butuh bimbingan dan juga belaian, Bukan sekadar sebuah pengabaian. ​Mengapa ...

Dekapan yang Hilang Sebelum Datang

Kata orang, engkau menangis saat aku lahir ke bumi,  Sebuah air mata bahagia bercampur rasa nyeri. Namun, mengapa saat mataku terbuka melihat hari, Tubuh mungil ini justru dipaksa melangkah pergi? Aku dibawa melangkah jauh, memutus jarak dan ruang,  Meninggalkan wangimu yang bahkan belum sempat kukenang. Dunia begitu terburu-buru merenggutku dari pelukan,  Meninggalkan sepi yang panjang dalam ketidaktahuan.   Ibu, aku bahkan belum sempat mendengar suaramu yang lirih,  Menyebut sebuah nama yang kausiapkan dengan perih.  Nama yang mungkin kau bisikkan dalam setiap doa malam, kini terkubur bersama rindu yang kian mendalam.   Belum sempat pula aku bersandar di hangat dadamu, Mendengar detak jantung yang dulu menuntun jalanku.  Dada yang seharusnya menjadi tempatku pulang dan rebah,  kini menjelma jadi jarak yang membuat hatiku patah.   Dunia ini teramat kejam dalam membuat keputusan, Memisahkan kita sebelum sempat ego saling b...

Senyummu Hari Ini Adalah Semangatku Seumur Hidup

Ketika fajar menyapa bumi dengan malu-malu, Kulihat lengkung indah di ranum bibirmu. Sederhana, namun sanggup meruntuhkan ragu, Mengusir pekat malam yang sempat membelenggu. ​Satu detik tatapan, satu rekah yang tulus, Mampu menghapus lara yang datang menghunus. Bagaikan embun pagi yang sejuk mengalir lurus, Membasuh jiwa yang lelah agar tak pupus. ​ Senyummu hari ini adalah sebuah prasasti, Yang kupahat dalam-dalam di lubuk hati. Ia bukan sekadar hiasan wajah yang berganti, Melainkan lentera yang takkan pernah mati. ​ Dunia mungkin riuh dengan sejuta tuntutan, Kerap membawa langkahku dalam ketakutan. Namun mengingat senyummu di dalam ingatan, Seketika runtuhlah segala beban dan hambatan. ​Biarpun waktu merayap dan usia kian menua, Walau raga melemah ditelan sang kala. Akan tetapi senyummu tetap menyala, Menjadi bahan bakar bagi jiwa yang meronta. ​Hari ini kau tersenyum, meretas segala redup, Menjadi kompas pelindung di kala badai bertiup. Ketahuilah kasih, setiti...

Kenangan Nganco Udang Semasa Kecil

Di bawah langit jingga yang perlahan redup, Kita melangkah menyusur pematang yang lembap. Berbekal anco bambu dan lampu teplok redup, Mengejar riak air di sela malam yang senyap. Kaki-kaki kecil kita terbenam dalam lumpur, Dinginnya air sungai meresap hingga ke dada. Namun hangat tawa kita tak pernah luntur, Menanti udang melompat di atas jaring yang ada. Saat anco diangkat perlahan dari dasar kali, Ada debar janggal yang melompat di dalam hati. Kilau udang galah meliuk-liuk menari, Menjadi harta karun paling berharga malam ini. Bau tanah basah dan aroma asap api unggun, Kini menjelma rindu yang mengetuk pintu dada. Membawa ingatan pada masa yang begitu anggun, Saat bahagia begitu sederhana, tanpa banyak jeda. Ingin rasanya aku kembali ke masa itu, Menepis penat dunia yang kian membiru. Kembali menjadi bocah pembolang yang lugu, Meraba hangatnya kenangan di ujung jaring anco-mu.

Terkena Sandiwara Cinta

Layar terkembang di panggung yang sunyi, Kau mainkan peran dengan begitu rapi. Kata-kata manis mengalir bagai simfoni, Membuat hatiku percaya tanpa ragu di hati. ​ Ternyata pelukanmu hanyalah sebuah dekorasi, Tempatmu singgah saat penat mencari sepi. Aku terbuai dalam kehangatan ilusi, Sementara engkau sibuk merajut fiksi. ​ Kini topengmu mulai retak dan luruh, Meninggalkan aku yang terlanjur luluh. Setiap janji manis berubah menjadi riuh, Menertawakan bodohnya aku yang patuh. ​ Perihnya luka ini tak kasat oleh mata, Terjebak dalam labirin penuh dusta. Kau sebut ini cinta yang penuh permata, Namun bagiku, ini hanyalah bencana cerita. ​ Selesai sudah tepuk tangan penonton riang, Meninggalkan aku sendirian di sudut remang. Memunguti sisa hati yang kini bimbang, Belajar merelakan bayangmu yang mulai hilang.

Nenekku dalam bayangan

 Di sudut kamar yang begitu sunyi, Mengalir air mata yang tak mau berhenti. Mengingat senyum hangat yang dulu ada, Kini nenek telah pergi untuk selamanya. Suara lembutmu yang memanggil namaku, Kini menjelma menjadi rindu yang kaku. Tak ada lagi belaian kasih yang menenangkan, Hanya tersisa sejuta kenangan yang menyakitkan. Malam-malam kini terasa begitu dingin, Kucoba memeluk bayangmu lewat embusan angin. Nenek yang kucintai kini telah tiada, Meninggalkan duka yang mendalam di dada. Teringat petuahmu yang menuntun jalanku, Kini menjadi lentera di dalam sepiku. Walau ragamu tak lagi bisa kusentuh, Doaku untukmu tak akan pernah runtuh. Tidurlah yang tenang di sana, duhai nenekku, Di tempat yang indah tanpa ada rasa pilu. Tuhan telah membawamu pulang ke sisi-Nya, Menikmati kedamaian abadi di surga-Nya. Aku di sini akan terus melangkah, Meski hati ini terkadang merasa lelah. Suatu saat nanti kita kan bersua lagi, Di dunia yang kekal, takkan ada yang pergi.

Gugur di Atas Kertas

Lembar demi lembar telah rampung kutata, Mengukir angka, merajut kata demi kata. Kupenuhi semua titah yang tertulis di sana, Tanpa ada satu pun jeda yang sengaja terlupa. ​Namun di meja itu, tatapanmu terasa dingin, Bagaikan embus angin malam yang menusuk batin. Kau goreskan garis merah tanpa banyak bicara, Meruntuhkan seluruh peluh yang kubangun dalam dada. ​Katamu, ini semua masih jauh dari sempurna, Kurang menyentuh rasa, kurang memberi warna. Padahal aku berjalan persis di garis panduanmu, Menghidupkan setiap instruksi yang kau beri padaku. ​Aku terpaku dalam hening ruang yang sepi, Mencari letak cela yang membuatmu berpaling hati. Apakah tugas yang usai kini tak lagi berarti, Jika selera pribadi yang menjadi standar tertinggi? ​Ada yang patah di balik senyum yang kupaksakan, Saat seluruh usaha hanya berujung kekecewaan. Aku lelah mengejar bayang yang terus berubah, Di bawah bayang kuasamu yang tak pernah merasa gundah. ​Malam ini kusimpan kembali berkas yang te...