Menara Sepi di Batas Langit
Di pundaknya bertengger awan yang luruh,
Tiang besi berdiri tegak namun rapuh.
Ia memahat bayang pada tanah yang kering,
Mendengar bisik angin yang berdesing nyaring.
Tubuhnya dingin merangkul kawat sengkang,
Menatap senja yang perlahan mulai lekang.
Tak ada detak jantung di dada yang kelabu,
Hanya gema sunyi di sela kerangka kaku.
Ia perantara rindu yang tak pernah sampai,
Mengirim suara-suara yang kian lunglai.
Namun ia sendiri, terpasung dalam sepi,
Tak punya kawan bicara di sunyinya tepi.
Lampu merah di puncaknya berkedip pelan,
Seperti mata yang lelah menanggung beban.
Menjaga cakrawala dari gelap yang pekat,
Meski jiwanya sendiri kian berkarat.
Hujan seringkali datang memeluk badannya,
Mencuci debu tapi tak hapus duka di hatinya.
Ia basah dalam diam yang paling rahasia,
Di antara riuh sinyal yang memburu dunia.
Bintang-bintang jauh enggan mampir menyapa,
Hanya kunang-kunang listrik yang berpura-pura.
Menemani kesendirian di tengah padang luas,
Di bawah langit malam yang kian tak berbatas.
Burung-burung hinggap hanya untuk berlalu,
Meninggalkan jejak cakar di bahu yang kaku.
Ia adalah saksi pertemuan yang tak kasatmata,
Meski dirinya terkunci dalam satu kordinat saja.
Sampai fajar menyentuh ujung-ujung besinya,
Ia tetap di sana, abadi dalam perannya.
Sebuah menara yang menjulang tinggi ke angkasa,
Namun akarnya terkubur dalam duka yang tak terasa
Komentar
Posting Komentar