Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Di Balik Lelah, Ada Cinta

Di penghujung hari yang begitu panjang, Saat raga kehilangan sandaran untuk pulang, Kurasakan jemari lembut-Mu membasuh luka, Memberi napas pada jiwa yang hampir terlupa. ​ Terima kasih atas kekuatan di balik lelah , Saat langkahku terasa berat dan mulai patah, Engkau tak membiarkan aku jatuh terhempas, Memberi daya saat tenagaku nyaris habis terlepas. ​Dunia bising menuntut banyak hal dariku, Menanam duri dalam setiap ruang ragu, Namun Engkau hadir membawa hening yang indah, Menjadi ketenangan di balik tiap-tiap resah . ​Seperti embun yang jatuh tanpa suara, Engkau membalut hati yang penuh dengan lara, Menghapus badai yang berkecamuk di dalam dada, Hingga badai itu pun tunduk, tak lagi ada. ​Seringkali aku hanya meminta apa yang kulihat, Mengejar bayang yang kuanggap sebagai berkat, Namun Engkau lebih tahu rahasia di balik tabir, Tentang kebaikan yang semestinya mengalir. ​ Atas segala sesuatu yang tak pernah kuminta , Engkau bentangkan jalan dengan penuh pelita, ...

Di Ujung Cerita

Jika mentari esok tak lagi menyapa mataku, Dan namaku hanya menjadi gema di ruang tamu, Jangan biarkan kakimu terpaku di lantai yang sunu, Sebab aku telah pulang ke balik cakrawala yang biru. ​Bila namaku kini hanyalah sebuah deretan kata, Tertulis di atas nisan atau terselip di antara doa, Kumohon, jangan biarkan dirimu tenggelam air mata, Hingga kau lupa cara melihat indahnya semesta. ​Aku hanyalah sebuah bab yang telah usai ditulis, Dalam buku kehidupan yang kadang manis, kadang miris. Jangan biarkan duka membuat batinmu terkikis, Hingga senyummu yang indah perlahan habis. ​Ingatlah kepakan tawa yang pernah kita bagi, Saat dunia terasa ringan dan beban lari bersembunyi. Simpanlah hangatnya mentari yang kuberikan di pagi hari, Bukan dinginnya hujan saat aku harus melangkah pergi. ​Luka ini hanyalah selaput tipis yang akan luruh, Jangan kau biarkan ia tumbuh menjadi rapuh. Ingatlah genggaman tangan yang membuatmu tangguh, Saat badai datang dan membuat langkahmu keru...

Libur yang Tak Berarti

Kalender merah hanya warna di dinding, Tak ada riuh, tak ada sapa yang penting. Jendela terbuka namun udara terasa asing, Hanya sunyi di kepala yang seperti gasing. Layar ponsel menyala, memamerkan tawa orang, Sementara aku terjebak di kamar yang remang. Rencanaku hilang sebelum sempat mengembang, Hanyut ditelan malas yang datang bergelombang. Secangkir kopi mendingin tanpa sempat diteguk, Waktu merayap pelan, membuat punggung ini membungkuk. Bukan istirahat yang kudapat, melainkan sesak yang memupuk, Di antara bantal dan guling yang kian membusuk. Langkah kakiku tertahan di ambang pintu rumah, Ingin pergi, tapi tak ada tujuan yang terarah. Libur ini bagai kertas kosong yang salah, Hanya putaran waktu yang terus berputar tanpa lelah. Senja datang tanpa membawa rasa syukur, Menutup hari yang hambar dalam liang kubur. Besok kembali pada kerja yang teratur, Membawa sisa libur yang tak bisa melebur.

Dermaga Kesetiaan

Kita bagai dua perahu kecil yang dilepas, Mengarungi luasnya samudera tanpa batas, Berlayar di lautan yang tak selalu biru, Menjemput fajar, meninggalkan masa lalu. Bukan soal siapa yang paling kuat mendayung, Atau siapa yang lebih dulu mencapai ujung, Tapi siapa yang tetap erat menggenggam tangan, Saat badai datang membawa kegelapan. Sebab ombak tak selamanya berbisik tenang, Ada kalanya ia datang dengan amarah meradang, Di sanalah letak arti dari sebuah janji, Bukan sekadar kata yang terucap di bibir sepi. Cinta itu nyatanya bukan hanya soal rasa, Ia adalah ujian panjang bagi sang waktu dan usia, Tentang bagaimana dua jiwa tetap searah, Meski arah angin memaksa kita menyerah. Saat godaan datang menyamar sebagai bahagia, Membujuk hati dengan warna yang lebih menyala, Ingatlah kembali pada sebuah pelabuhan tua, Tempat kita membangun mimpi dengan air mata. Kesetiaan bukanlah diam tanpa sebuah pilihan, Melainkan memilih bertahan di tengah keraguan, Menolak berpaling pada cahaya yang fana...

Langkah Sang Perindu

 Di ufuk timur fajar menyapa pelan, Kutinggalkan hangat selimut di balik pintu, Bukan karena paksa atau sekadar ikutan, Tapi rindu yang menggerakkan setiap sendiku. Debu jalanan menjadi saksi bisu, Sepatu usang menapak di atas aspal dingin, Di kepalaku tak ada lagi hiruk-pikuk palsu, Hanya satu nama yang ditiupkan oleh angin. Kubersihkan diri dengan air yang suci, Membasuh wajah dari penat dunia yang fana, Setiap tetesnya meluruhkan rasa benci, Menyiapkan jiwa untuk sujud yang bermakna. Tak kubawa beban jabatan atau harta, Semua kutinggalkan di ambang gerbang, Sebab di hadapan-Mu, aku hanyalah hamba, Yang datang dengan ketaatan yang tak bimbang. Langkah demi langkah semakin mendekat, Kubah dan menara mulai tampak di pelupuk mata, Ada getaran halus yang terasa begitu pikat, Menghapus lelah, menggantinya dengan cinta. Angin pagi berbisik di sela-sela dedaunan, Menemani niat yang bulat di dalam dada, Aku datang bukan untuk mencari pujian, Hanya ingin tenang di bawah naungan-Mu saja. S...

Sejati dalam Uji ​

Jangan ukur dalamnya cinta, Hanya dari manisnya kata yang bertahta, Sebab lidah mudah merajut sapa, Namun hati belum tentu seirama. ​Jangan kau timbang kasih sayang, Lewat hadiah mewah yang dipajang, Benda mati akan pudar dan hilang, Tak mampu mendekap saat jiwa bimbang. ​ Jangan terpaku pada janji yang tinggi, Yang diucapkan di bawah langit pagi, Seringkali ia terbang pergi, Saat awan hitam mulai menghampiri. ​Tapi bawalah cintamu ke gerbang ujian, Saat miskin datang mengetuk kediaman, Masihkah ia bertahan dalam kekurangan, Atau memilih pergi mencari kenyamanan ​Ujilah ia di kala raga sedang sakit , Saat ceria berganti keluh yang melilit, Apakah tangannya tetap memegang rakit, Atau membiarkanmu tenggelam sedikit demi sedikit ​Lihatlah ia di dalam keheningan sunyi , Saat dunia tak lagi riuh memberi puji, Apakah setianya tetap menjadi jati diri, Atau menghilang ditelan sepi yang ngeri ​Sebab cinta bukan sekadar perayaan, Tapi ketabahan dalam setiap keadaan, Ha...

Di Bawah Langit yang Memucat

Di ufuk timur warna kian memudar, Membawa dingin yang mulai menjalar. Aku berdiri di batas sunyi yang panjang, Melihat cinta yang perlahan-lahan hilang. Bermandikan dinginnya embun pagi, Kurasakan perih yang tak kunjung pergi. Tetesnya jatuh menyentuh kulit yang lelah, Membasuh sisa-sisa janji yang tumpah. ​Dahulu fajar adalah pelukan yang hangat, Tempat kita menyatukan doa dan niat. Namun kini kabut menutup jalan pulang, Meninggalkan rindu yang kini terbuang. ​Embun itu bening, namun terasa tajam, Menusuk relung hati yang kian menghitam. Ada sesuatu yang mati di dalam dada, Saat cahaya mulai menampakkan noda. ​Cinta yang dulu membakar bagai bara, Kini padam terendam tetesan sengsara. Tak ada lagi api untuk menghangatkan, Hanya ada dingin yang tak terlukiskan. ​Perlahan-lahan rasa itu berganti rupa, Dari pemujaan menjadi luka yang merupa. Setiap tetes air yang jatuh di atas daun, Membawa benci yang tumbuh bertahun-tahun. ​Aku benci bagaimana mentari mulai naik, ...