Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Luka Menjadi Doa

Nama kita kini telah terpisah jauh Membawa kisah yang berakhir keruh Namun kucoba balut luka ini dengan sabar Agar jiwaku tak lagi merasa terbakar Kupelajari cara memahami sebuah kehilangan Bahwa tak semua cinta berujung kemenangan Kujadikan perih ini sebagai butiran doa Agar kelak bahagia datang menghapus noda Wahai hati yang kini tengah merasa sunyi Janganlah lagi engkau terus bersembunyi Tenanglah dalam dekapan takdir yang ada Biarkan damai kembali menghuni di dada Tuhan menyimpan rahasia di balik air mata Tentang kasih yang lebih tulus daripada harta Akan ada hari yang sinarnya jauh lebih terang Menghapus semua duka yang pernah menerjang Ada cinta yang lebih indah telah disiapkan Untuk mengganti segala perih yang dirasakan Kita hanya perlu melangkah dengan keyakinan Melewati badai menuju sebuah ketenangan Masa depan menanti dengan senyum yang tulus Melepas ikatan lama yang perlahan terputus Biarlah waktu menyembuhkan segala yang lara Hingga kita temukan bahagia yang tiada tara

Dermaga di Antara Dua Badai

Di kiri ayah ibu berdiri dengan tatapan tanpa kata, Di kanan istri menatap dengan lara yang tak terkira. Aku tegak mematung bagai tiang yang kaku membisu, Bagai memandang awan hitam yang menikam di kalbu. ​Mereka adalah akar tempatku dulu tumbuh mendewasa, Namun kini hanya tatapan tanpa makna. Dulu mereka tempatku mengadu segala keluh dan kesah, Kini mereka membuat batinku menjadi resah. ​Lalu di sisiku ada belahan jiwa, Membawa beban kecewa yang merona. Ia yang kupilih untuk berjalan beriringan selamanya, Kini terjepit dalam konflik yang meluruhkan senyumnya. ​Aku berdiri tepat di tengah pusaran angin yang hebat, Mencoba menjadi perisai meski jiwaku mulai sekarat. Ingin kulerai namun lidahku terkunci rapat, Menjaga dua sisi agar tak ada yang merasa dikhianat. ​Kepalaku pening memikirkan cara untuk mendamaikan, Sebab setiap langkah seolah hanya membawa penyesalan. Jika kupilih satu, maka yang lain akan merasa tersisih, Meninggalkan luka hati yang kian perih. ​Namun ...

Mengubur Jejak Kenangan

Di bawah langit yang kian kelabu, Kucoba hapus bayang wajahmu. Sebab kini aku mulai mengerti, Cinta di hatimu telah lama mati. ​Ajari aku cara untuk melangkah, Saat semua janji berakhir musnah. Tak ada lagi rindu yang tersisa, Hanya ada hampa di dalam dada. ​Dulu kau adalah poros duniaku, Tempat kularungkan seluruh mimpiku. Namun kini semua terasa hambar, Bagaikan api yang tak lagi berkobar. ​Bantu aku membuang semua ingatan, Tentang manisnya setiap pertemuan. Kusadari kasih tak lagi bertahta, Hanya menyisakan perih dan air mata. ​Bagaimana cara menutup lembaran, Yang penuh dengan sejuta harapan. Kini kutahu kau tak lagi peduli, Membiarkan aku tertatih sendiri. ​Kulepas genggaman yang kian mendingin, Terbawa terbang bersama angin. Tak perlu lagi ada yang dipertahankan, Jika hanya pahit yang kau suguhkan. ​Ajari aku menjadi asing kembali, Tanpa ada rasa yang menyiksa diri. Sebab di matamu tak ada lagi cahaya, Yang dulu membuatku merasa bahagia. ​Kutanam dalam...

Cahaya dalam Kebutaan

Jika benar cinta itu buta adanya, Maka biarkan dunia hilang warnanya. Namun jangan biarkan hatiku mati, Hanya karena rupa tak lagi nampak di bakti. ​ Aku meraba di tengah pekat malam, Mencari jejak kasih yang kian mendalam. Meski mata terpejam tanpa cahaya, Rinduku tetap hidup dalam doa yang kaya. ​ Hanya satu pintaku pada sang waktu, Jangan biarkan dusta menjadi penentu. Ketulusan cinta adalah satu tujuan, Di tengah badai yang membawa keraguan. ​ Tak butuh emas atau permata berkilau, Hanya ingin hati yang tak pernah galau. Karena kasih bukan soal rupa dan raga, Tapi tentang jiwa yang saling menjaga. ​ Butakah hatiku jika terus bertahan, Di balik perihnya sebuah penantian? Mungkin memang benar aku telah tersesat, Namun dalam pelukmu aku merasa kuat. ​ Biarlah gelap menyelimuti pandangan, Asalkan kejujuran menjadi pegangan. Sebab ketulusan tak butuh mata fana, Ia bersemi indah di taman yang baka. ​Jangan kau beri janji semanis madu, Jika akhirnya hanya meninggal...

Cahaya yang Setia

Di panggung dunia yang bising dan silau, Banyak raga berlomba mencuri pandang. Mengejar puncak, memburu kilau, Hingga lupa arah jalan pulang. ​Tak perlu kau menjadi surya yang garang, Yang membakar apa pun yang ia sentuh. Sebab yang paling megah dan paling terang, Seringkali habis dan jatuh merapuh. ​Cukuplah menjadi pelita di sudut sepi, Yang cahayanya tenang merayap di dinding. Tak menyilaukan mata, tak tinggi hati, Namun menemani saat malam makin hening. ​Biarpun redup di tengah badai yang menderu, Asalkan sumbumu tak pernah menyerah. Lebih baik kecil namun tetap biru, Daripada besar lalu menjadi abu yang musnah. ​Sebab hidup bukan soal siapa yang paling pijar, Tapi tentang siapa yang bertahan dalam kelam. Yang meski kecil tetap teguh berpijar, Menjaga asa agar tak pernah padam. ​Jadilah abadi dalam kesederhanaanmu, Seperti bintang jauh yang konsisten bersemi. Cahaya redupmu adalah bukti baktimu, Menghangatkan jiwa hingga akhir hari.

Di Ujung Langkah Pada Ujung Senja

Di batas cakrawala yang mulai merona, Warna jingga jatuh perlahan di atas duka. Andai ini saatnya kita purna, Biarlah sunyi yang bicara betapa kita berharga. Langkah yang dulu tegap berlari, Kini mulai berat menyentuh bumi. Namun detak jantung tak pernah berganti, Masih menyebut namamu dalam setiap sepi. Senja ini tak membawa takut di dada, Meski cahaya mulai undur dari raga. Sebab aku tahu di mana tempatku bersandar, Pada hatimu yang tak pernah membiarkanku terpental. Tak ada ragu yang menyelinap masuk, Saat raga ini perlahan mulai membungkuk. Aku tetap milikmu, utuh dan tak terbagi, Hingga napas terakhir menjemput pagi yang abadi. Dan kau tetap milikku, pelabuhan terakhir, Di tengah badai dunia yang tak pernah berakhir. Bukan karena janji yang tertulis di atas kertas, Tapi karena jiwa kita yang memang sudah selaras. Biarkan malam menyelimuti pandangan mata, Menghapus bayang-bayang yang fana. Di dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, Cinta kita adalah lentera yang tak kunjung am...

Tanpa Ragu, Masih Kamu

Di antara detik yang terus menderu, aku berdiri di persimpangan yang bisu. Melihat bayangmu memudar di ujung jalan, namun langkahku enggan mencari tepian. ​Karna waktu telah banyak mencuri, warna di pipimu, serta tawa yang paling murni. Namun di hatiku yang resah, namamu adalah satu-satunya doa yang tak pernah salah. ​Jika hidup datang membawa ribuan tanya, tentang siapa yang paling pantas bertahta, aku tak butuh waktu untuk menimbang rasa, sebab kaulah jawaban yang menetap selamanya. ​Ada pilu yang terselip di sela jemari, saat menyadari kau tak lagi di sisi hari. Tapi memilihmu adalah luka yang paling indah, tempat hatiku pulang dan berhenti menyerah. ​Tak ada keraguan dalam kalimat yang terbata, meski jarak kini menjadi jurang yang nyata. Biarlah waktu berlalu mengejar usianya sendiri, namamu telah kukunci, takkan mungkin kulepas pergi. ​Maka jika nanti senja bertanya tentang setia, aku akan menunjuk jejak kita yang rahasia. Tanpa ragu, meski dunia kembali memb...

Andai kau tahu

Di balik senyum yang kupaksakan merekah, Ada perih yang tak sempat kau raba, Langkahku menjauh dengan sisa tenaga, Padahal jiwaku tersungkur di ambang hampa. ​Andai kau tahu betapa riuhnya tangis, Di dalam dada yang tampak begitu tenang, Setiap detak jantung terasa begitu bengis, Menghujam perih saat bayangmu mulai hilang. ​Aku berpura kuat di hadapan matamu, Seolah perpisahan ini bukan sebuah luka, Namun langit runtuh tepat di atas bahuku, Saat punggungmu mulai menjauh dari muka. ​Hati ini teriris sembilu yang tak kasatmata, Berdarah tanpa warna, sakit tanpa suara, Aku adalah sandiwara paling sempurna, Mencoba tegar di tengah badai sengsara. ​Jangan sangka langkahku seringan kapas, Sebab di tiap pijakan ada beban yang berat, Napas yang kuhirup terasa begitu ampas, Menyesakkan rongga yang kini terasa sekarat. ​Dinginnya sunyi kini menjadi kawan setia, Menertawakan aku yang pandai bersandiwara, Sakitnya melepasmu sampai didada, Hingga nafasku pun terasa penuh bara...