Elegi di Ambang Sunyi

Di pojok kamar, lagu itu berputar tanpa henti,

melodi lama yang kini jadi belati paling tajam.

Aku masih menunggumu di sela denting yang sunyi,

lupa bahwa ragamu sudah lama dipeluk malam.


​Kau pergi terlalu lekas, sebelum sempat pamit,

meninggalkan kursi kosong dan gelas yang mendingin.

Kini napasku hanyalah sisa-sisa sesak yang pahit,

terhempas ke dinding rumah yang dipenuhi angin.


​Aku menapaki kembali setiap baris surat lama,

seperti jejak kaki yang hilang tertimbun salju.

Makin aku melangkah, makin terasa hampa,

karena jalan ini hanya menuntun pada ketiadaanmu.


​Dulu, sentuhanmu adalah peta untuk aku bernapas,

mengajariku bahwa hidup bukan sekadar detak jantung.

Kini peta itu koyak, arahku benar-benar lepas,

tercecer di antara kenangan yang kini menggantung.


​Kupejamkan mata, mencoba mencuri sedikit hangatmu,

berpura-pura kau masih di sini, membisikkan doa.

Namun yang kutemukan hanyalah gelap yang membeku,

dan kenyataan bahwa aku kini benar-benar sendiri saja.


​Apakah di sana kau membaca rintihan yang kutulis?

Ataukah baris-baris ini hanya debu yang terbang sia-sia?

Sebab di sini, setiap huruf adalah air mata yang menangis,

mencari alamatmu yang sudah tak lagi ada di dunia.


​Dunia tetap berputar, namun bagiku waktu telah mati,

terpaku pada detik terakhir saat kau masih ada.

Kini aku hanyalah sebuah rumah yang ditinggal pergi,

yang atapnya runtuh karena beratnya beban duka.


​Aku rindu cara kau tertawa di tengah dinginnya malam,

kehangatan yang kini jadi mitos yang menyakitkan.

Setiap sudut ruangan ini menyimpan luka yang dalam,

membuktikan bahwa kehilanganmu adalah kematian perlahan.


​Jika rindu ini adalah jalan, biarlah ia tak berujung,

asalkan aku bisa terus berjalan menuju bayanganmu.

Meski hatiku hancur, meski pundakku tak lagi kokoh membusung,

aku akan tetap merangkak di antara puing-puing namamu.


​Malam Natal ini hanyalah panggung sunyi yang dingin,

di mana aku adalah pelakon yang lupa cara untuk bahagia.

Surat ini kulipat, lalu kulepaskan pada embusan angin,

bersama jiwaku yang ikut terkubur bersamamu selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA