Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Pulang ke Dalam Sunyi

Di antara riuh kata yang tak kau jamah, Aku berdiri di ambang pintu yang lelah. Bukan kakiku ingin melangkah menjauh, Hanya saja hatiku butuh tempat berteduh. ​Jika suatu pagi kursiku kosong melompong, Bukan berarti janji-janjiku bohong. Aku hanya jenuh berteriak di balik tembok, Sambil memunguti sisa harap yang mulai bengkok. ​Aku tidak menyerah pada kita yang rumit, Meski luka ini mulai terasa menggigit. Aku hanya ingin kau mencari jejakku, Bukan sekadar membiarkan aku membeku. ​ Mungkin aku harus menjadi tiada sebentar saja, Agar kau ingat bagaimana rasanya berharga. Sebab seringkali hadirku dianggap biasa, Seperti udara yang kau hirup tanpa silsila. ​ Lihatlah langit yang kehilangan satu bintang, Ia tidak membenci malam yang membentang. Ia hanya ingin dimengerti oleh kegelapan, Bahwa cahaya kecil pun butuh dekapan. ​Jangan cari aku di keramaian kota, Cari aku di antara jeda bicara dan air mata. Di sana aku sedang memeluk diriku sendiri, Menanti kau datang mem...

Gema Tawa di Beranda

Di sudut teras, ayah dan ibu duduk bersandar Melihat sisa senja dengan senyum yang berpijar Lelah di pundak luruh saat melihat kami berkumpul Cinta mereka adalah akar, tempat rindu saling memukul ​ Mertua hadir membawa petuah dalam canda Bercerita kisah lama yang membuat kami terpana Tak ada sekat, hanya kasih yang kian merekat Dua keluarga melebur dalam satu pelukan hangat ​ Istriku tersenyum, binar matanya sebening embun Menyuguhkan teh hangat di sela riuh yang beruntun Ia adalah napas bagi rumah yang penuh nyawa Menjaga harmoni tetap hidup dalam detak jiwa ​Si kecil, anakku , berlarian mengejar bayangan Tawanya lepas, memenuhi ruang tanpa beban Ia adalah harapan yang tumbuh di antara tawa kita Alasan mengapa setiap hari layak menjadi cerita ​ Adik terpingkal menceritakan konyolnya masa lalu Membongkar rahasia lama yang membuatku tersipu malu Di sebelahnya, kakak ipar menimpali dengan kelakar Persaudaraan kami adalah pohon yang takkan pernah pudar ​ Keluarga lainnya datang memb...

Di Ambang Pintu Ampunan

Di hadap Sajadah yang membisu sepi, Aku datang membawa tumpukan daki. Bukan sombong, bukan pula tinggi hati, Hanya jiwa yang lelah dikejar janji-janji mati. ​Ya Rabb, langkahku seringkali menyimpang, Mengejar bayang dunia yang kian meradang. Lupa akan hak-Mu yang terabaikan terang, Hingga nurani tertutup kabut yang menghalang. ​Tangan ini pernah menggenggam yang fana, Lidah ini pernah berucap penuh cela. Mata ini sering memandang yang tak semena, Menimbun dosa di atas tumpukan nestapa. ​Aku malu bersimpuh di hadapan-Mu, Sedang nikmat-Mu mengalir di setiap nadiku. Kau beri udara, Kau beri cahaya rindu, Namun aku membalasnya dengan punggung kaku. ​Kini air mata jatuh tanpa sempat kutahan, Membasahi debu khilaf yang kian menyesakkan. Tiada tempat lari dari segala keresahan, Hanya pada kasih-Mu aku gantungkan harapan. ​Hapuslah titik hitam dalam lembar nuraniku, Basuhlah kotoran yang mengerak di kalbu. Jangan biarkan aku tersesat dalam belenggu, Jauh dari rida dan re...

Jaring Ayah dan Langkah Kecilku

Tangan kekar itu menggenggam pangkal jaring, Menyampirkan jala di bahu dengan gagah perkasa. Aku mengekor di belakang, melompat di batu guling, Membawa ember plastik, harta karun kita sementara. Sungai itu kecil, airnya bening membasahi mata kaki, Berbisik di sela kerikil dan lumut yang menari. "Diam sejenak," bisik Bapak sambil berdiri beraksi, Menunggu riak perak muncul di permukaan hari. Lalu jala itu mengembang, seperti payung raksasa di udara, Jatuh mengepung arus dengan suara yang mesra. Aku berlari mendekat, tak sabar melihat isinya, Ikan-ikan kecil menggelepar, berkilau seperti permata. Ada lunjar, lawak bahkan lele pun ikut melompat-lompat, Masuk ke dalam ember yang kupeluk dengan erat. Bapak tersenyum, mengusap kepalaku yang basah, Bahagia itu sederhana, tak perlu mewah atau susah. Kini sungai itu mungkin telah berubah rupa, Atau jala Bapak sudah lama tergantung tua. Namun setiap kali aku mendengar gemericik air mengalir, Aku selalu merasa kembali menjadi bocah keci...

Ganco Bambu dan Lumpur Liburan

Matahari malu-malu di balik awan, Saat kita melangkah di atas pematang yang licin. Tanpa alas kaki, tanpa beban di pikiran, Hanya ganco bambu dan semangat yang tak mungkin dingin. Lumpur menciprat di betis yang kurus, Kita mengintai di sela-sela akar padi yang rimbun. Tanganmu cekatan, mengayun ganco dengan lurus, Mencari kumis udang di balik air yang tenang menyusun. teriakmu tertawa riang memecah sunyi, Seekor udang sawah melenting dalam genggaman. Bening dan lincah, berkilau di bawah cahaya hari, Menjadi piala kecil dalam petualangan masa liburan. Sawah adalah taman bermain yang tak bertepi, Tempat kita belajar tentang sabar dan berbagi. Meski kini kita sibuk dengan urusan masing-masing, Bau tanah sawah itu membuat rindu kembali terkenang.

Lintas Aspal

Jaket kulit yang mulai kusam serta aroma bensin, Adalah seragam kebanggaan kita kala itu. Di atas jok besi, kita bukan lagi orang asing, Melainkan elang yang mencari ujung cakrawala membiru Deru knalpot membelah sunyi jalanan desa, Saling lambaikan tangan saat menyalip di tikungan. Debu yang menempel di wajah bukan sebuah siksa, Sebab ada tawa yang pecah di setiap pemberhentian Kita tak peduli pada peta yang kadang menyesatkan, Atau gerimis yang memaksa kita berteduh di warung kopi. Sebab tujuan utama bukanlah titik di kejauhan, Melainkan cerita yang kita rajut sepanjang jalan sepi Masa muda adalah tangki yang selalu penuh ambisi, Berpacu dengan waktu sebelum tanggung jawab menanti. Kini, meski motor kita mungkin sudah jarang beradu, Getar mesinnya masih terasa di detak jantungku selalu

Butir Kaca di Bawah Rindang

Di bawah kanopi bambu yang berbisik pelan, Kita duduk bersila, beralaskan tanah yang dingin. Udara sejuk menyelinap di antara celah batang, Membawa aroma tanah basah dan sisa hujan kemarin. Ada gundu-gundu kaca di telapak tanganmu, Bening berkilau, menyimpan pelangi di dalamnya. Jari jemarimu lincah, membidik dengan satu mata tertutup, "Klik!"—suara benturan itu adalah musik paling merdu pada masanya Kita tak butuh layar, tak butuh dunia yang bising Hanya lubang kecil di tanah dan garis batas yang miring Kalah atau menang, tawamu tetap pecah berderai Terbang bersama helai daun bambu yang jatuh menjuntai Kini pohon itu mungkin sudah menebal atau tiada Dan kelereng kita mungkin terkubur di akar yang tua Namun di bawah bayang teduh ingatan ini, Kita masih anak kecil yang tak ingin pulang, hingga senja menanti.

Jejak tawa yang membekas sunyi

Kita berjalan dihari yang cerah Jiwamu dan jiwaku telah lama menyatu Kau adalah jangkar disaat hatiku terbelah  Sahabat sejati disetiap detik dan waktu Tawa kita seperti gemericik air yang riang Penuh binar melupakan segala lara Namun dibalik keriangan yang terbentang Ada kisah yang hanya mata kita yang bicara Persahabatan ini adalah rumah tanpa sisi Tempat rahasia paling gelap pun terurai Kau tahu letak luka yang paling tersembunyi Dan tahu rasanya saling menghargai Kita tertawa bersama dalam keriangan Bahwa didalam dada ada tersirat kenangan Saat kau tersenyum hariku ikut berlagu Meski nadanya terdengar sendu Kau adalah bayangan yang tak pernah pergi menjauh Selalu ada, di sunyi dan ditengah keramaian Setiap kisah, setiap canda yang tak pernah utuh Membentuk ikatan yang tak lekang oleh kenyataan Biarlah orang melihat kita dalam kesederhanaan Dan tak pernah mengerti dalamnya rasa kebersamaan Kita tahu persahabatan ini adalah keajaiban Sebuah keriangan abadi tanpa tersirat adanya p...

Cinta abadi dalam sunyi senyap

Di sunyinya hari yang membentang sepi Tak ada suara hanya hening merajai Namun di dada sebuah rasa tak terhenti Cinta yang tak pernah luntur abadi Untukmu istri tempat hati berlabuh Pilar kuat yang membuat langkahku utuh Untuk anak - anak, tawa dan harapan yang tumbuh Nafas hidup yang takkan pernah rapuh Jug untuk kedua orang tua yang kucinta Akar kehidupan segala doa Dan mertua, orangtua yang turut kujaga Kasih tulus yang melengkapi bahagia Serta saudara, ikatan darah yang menghangatkan Kenangan indah tak lekang dimakan zaman Kalian semua alasan. untuk bertahan Cinta yang tak terucap namun terasakan Hanya keheningan kini menemani Terkadang diselingi suara jangkrik di tepi Atau siulan lembut dari seekor burung pagi Menjadi saksi bisu kokohnya janji dihati Dalam senyap ini cinta kian mengkristal Lebih terang dari bintang, lebih megah dari koral Kalian segalanya yang selalu kucinta Kalian suci yang memang abadi

Senandung syahdu di pelukan malam

Dimalam yang jatuh, sunyi dan mendalam Aku terdiam memandang cahaya rembulan Ada senandung rindu yang merdu tenggelam Berbisik tentang hati yang penuh ketulusan Kau istriku adalah dermaga tempatku pulang Pelukmu adalah obat atas segala lelah Dimatamu kutemukan pagi yang terang Dengan kekuatan hati yang takkan pernah goyah Wajahmu terukir dalam setiap doa Menjadi keindahan yang takkan pernah pudar Mengajarkan bahwa cinta sejati tak butuh kata Cukup sebuah genggaman yang hangat dan sabar Dan kamu anakku adalah warisan semesta Tawa dan tangismu adalah melodi syahdu dirumah Melihatmu tumbuh, hati ini penuh bahagia Sekaligus didera takut akan waktu yang cepat melangkah Setiap nafas yang kau hembuskan di sisi Adalah anugerah yang tak terbayar oleh harga Meskipun ada waktu, keheningan menyelimuti  Cinta ini kokoh, takkan pernah rapuh oleh lara  Biarlah malam ini membawa kerinduan yang lembut Tentang kebersamaan yang dulu tak pernah usai Kalian adalah dunia tempat aku berlutut Keluarg...

Gubuk ditengah sunyi

Dimalam yang sunyi, ku terdiam Duduk sendiri hening mencekam Gubuk tua di jantung sawah Menjadi saksi jiwa yang lelah Angin malam perlahan berbisik Membawa dingin memusuk lirik Langit gelap bintang berkelipan Jauh dari riuh hiruk kehidupan Dari lumpur basah melodi riang Suara katak bersahutan lantang Serangga malam turu bernyanyi Menemani hati yang sepi Aroma tanah rumput dan padi Menjadi wangi dimalam hari Diantara bayangan pohon kelapa Kutemukan damai kutemukan jeda Disinilah aku dalam kesunyian Membuarkan waktu berjalan perlahan Merenung makna dari keheningan Hingga fajar kembali terbit menjelang

Di Ambang Pematang, Kita Pernah Abadi

Di sana, di mana jam dinding tak punya kuasa, kita pernah menjadi raja atas tanah berlumpur. Berlari di antara barisan padi yang merunduk malu, mengejar capung yang menari di sela aroma tanah basah, dan mentari sore yang jatuh pelan di pundak kita yang kecil. ​Pematang sawah adalah saksi bisu, tentang tawa yang pecah tanpa beban hari esok. Kaki-kaki mungil kita yang dekil oleh lempung, tak pernah takut pada duri atau panas yang menyengat, sebab petualangan lebih berharga dari sekadar luka. ​Lalu kita akan singgah di pelukan sungai kecil itu, beningnya seperti kaca yang memantulkan wajah-wajah polos. Byur! Kita melompat, menantang arus yang tenang, merasakan dingin yang menjalar, menyapu peluh dan debu. Ikan-ikan kecil berlari di antara jempol kaki kita, ikut merayakan riuh yang tak akan pernah terulang lagi. ​Kini, sungai itu mungkin tak sebening dulu, dan sawah-sawah telah berganti menjadi dinding batu. Tapi di dalam kepala ini, kalian masih di sana: berteriak giran...