Surat yang Berlayar ke Langit

Dunia di luar sana terbungkus salju perak yang dingin

Membekukan waktu, mengunci detak angin

Di balik kaca jendela yang mulai berembun

Kulihat putihnya rindu jatuh berduyun-duyun

​Kutarik napas dalam dan kembali menuliskan namamu

Di atas kertas putih yang menjadi saksi bisu

Setiap lengkung hurufnya memanggil bayangmu kembali

Menghidupkan sosok yang amat kurindukan setengah mati

​Sedikit getaran jemari mengingatkanku di mana luka itu bermula

Saat genggamanmu perlahan lepas dan kita menjadi tiada

Pena ini berguncang, menahan perih yang belum juga usai

Meratapi kisah indah kita yang terlanjur terai-berai

​Malam-malam begitu panjang, namun kenangan tetap hangat dan nyata

Ia menjadi selimut di kala tubuhku menggigil tersiksa

Senyummu, tawamu, dan caramu menatap mataku

Masih tersimpan utuh, menolak mati dimakan waktu


​Dan setiap momen yang sunyi seolah menuntunku kembali padamu

Di tengah sepinya kamar, suaramu menggema samar dan syahdu

Tak ada tempat pelarian yang benar-benar menjauh

Karena kompas di dadaku selalu menunjuk ke arahmu dengan patuh


​Maka kutulis surat ini, berharap entah bagaimana ia 'kan sampai ke seberang sana

Ke sebuah tempat yang tak lagi bisa kujangkau dengan panca indra

Apakah di sana kau juga sedang menatap langit yang sama?

Ataukah kau telah bahagia dan melupakan semua cerita?


​Biar kutitipkan lembaran ini pada angin malam yang berdesir

Sebab air mata ini sudah tak mampu lagi mengalir

Kugoreskan rindu terakhir di sela dingin yang menusuk tulang

Menanti keajaiban yang mungkin takkan pernah datang

​Kini surat telah terlipat bersama damai yang kupaksakan

Menjadi tanda cinta yang takkan pernah pudar oleh zaman

Biarlah salju perak di luar menjadi saksi abadi

Bahwa namamu adalah satu-satunya yang hidup di hati ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA