Gugur di Atas Kertas

Lembar demi lembar telah rampung kutata,

Mengukir angka, merajut kata demi kata.

Kupenuhi semua titah yang tertulis di sana,

Tanpa ada satu pun jeda yang sengaja terlupa.


​Namun di meja itu, tatapanmu terasa dingin,

Bagaikan embus angin malam yang menusuk batin.

Kau goreskan garis merah tanpa banyak bicara,

Meruntuhkan seluruh peluh yang kubangun dalam dada.


​Katamu, ini semua masih jauh dari sempurna,

Kurang menyentuh rasa, kurang memberi warna.

Padahal aku berjalan persis di garis panduanmu,

Menghidupkan setiap instruksi yang kau beri padaku.


​Aku terpaku dalam hening ruang yang sepi,

Mencari letak cela yang membuatmu berpaling hati.

Apakah tugas yang usai kini tak lagi berarti,

Jika selera pribadi yang menjadi standar tertinggi?


​Ada yang patah di balik senyum yang kupaksakan,

Saat seluruh usaha hanya berujung kekecewaan.

Aku lelah mengejar bayang yang terus berubah,

Di bawah bayang kuasamu yang tak pernah merasa gundah.


​Malam ini kusimpan kembali berkas yang terluka,

Bersama sisa semangat yang kian menua.

Esok aku akan kembali, merakit yang kau sebut kurang,

Meski kutahu, kepuasanmu adalah batas yang mengambang.


​Bukan karena aku tak setia pada tanggung jawabku,

Hanya saja langitmu terlalu tinggi untuk sayap rapuhku.

Aku hanyalah pekerja yang patuh pada perintah,

Yang kini pulang membawa sekeranjang rasa lelah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA