Kenangan Nganco Udang Semasa Kecil
Di bawah langit jingga yang perlahan redup,
Kita melangkah menyusur pematang yang lembap.
Berbekal anco bambu dan lampu teplok redup,
Mengejar riak air di sela malam yang senyap.
Kaki-kaki kecil kita terbenam dalam lumpur,
Dinginnya air sungai meresap hingga ke dada.
Namun hangat tawa kita tak pernah luntur,
Menanti udang melompat di atas jaring yang ada.
Saat anco diangkat perlahan dari dasar kali,
Ada debar janggal yang melompat di dalam hati.
Kilau udang galah meliuk-liuk menari,
Menjadi harta karun paling berharga malam ini.
Bau tanah basah dan aroma asap api unggun,
Kini menjelma rindu yang mengetuk pintu dada.
Membawa ingatan pada masa yang begitu anggun,
Saat bahagia begitu sederhana, tanpa banyak jeda.
Ingin rasanya aku kembali ke masa itu,
Menepis penat dunia yang kian membiru.
Kembali menjadi bocah pembolang yang lugu,
Meraba hangatnya kenangan di ujung jaring anco-mu.
Komentar
Posting Komentar