Rumah Tanpa Pelukan

Di balik jendela kaca yang basah,

Kulihat mereka tertawa renyah.

Seorang anak di pelukan ayahnya,

Penuh dengan cinta dan bahagia.


​Sementara aku berdiri di sini,

Ditemani sepi yang kian merajai.

Langkah kakiku terasa begitu berat,

Menuju rumah yang terasa senyap dan pekat.


​Mengapa nasibku harus berbeda,

Melihat mereka ceria bergembira?

Aku pulang hanya membawa sunyi,

Mengubur mimpi yang layu di hati.


​Aku juga ingin dijemput pulang,

Saat senja mulai datang menjelang.

Menanti sosok yang selalu dinanti,

Bukan berjalan sendirian seperti ini.


​Ingin rasanya saat ku tertidur lelap,

Ada tangan hangat yang mendekap.

Digendong lembut menuju ke kamar,

Membuat jiwaku yang rapuh berbinar.


​Namun semua hanyalah bayangan,

Sebuah angan di dalam lamunan.

Kasur yang dingin menyambut ragaku,

Menemani tangis di dalam batin pembenciku.


​Aku ini hanyalah anak kecil,

Menghadapi dunia yang begitu labil.

Butuh bimbingan dan juga belaian,

Bukan sekadar sebuah pengabaian.


​Mengapa rasa ini begitu mahal,

Membuat hidupku terasa menjal?

Aku merindukan sebuah pelukan,

Yang mampu menghapus segala kedukaan.

Kulihat mereka begitu beruntung,

Kasih sayangnya tiada terbendung.

Sedang jiwaku terus merana,

Mencari cinta yang entah di mana.


​Tuhan, dengarlah doa anak ini,

Yang merindukan kasih sejati.

Ingin dicintai seperti mereka,

Bebas dari rasa sepi dan luka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA