Dekapan yang Hilang Sebelum Datang
Kata orang, engkau menangis saat aku lahir ke bumi,
Sebuah air mata bahagia bercampur rasa nyeri.
Namun, mengapa saat mataku terbuka melihat hari,
Tubuh mungil ini justru dipaksa melangkah pergi?
Aku dibawa melangkah jauh, memutus jarak dan ruang,
Meninggalkan wangimu yang bahkan belum sempat kukenang.
Dunia begitu terburu-buru merenggutku dari pelukan,
Meninggalkan sepi yang panjang dalam ketidaktahuan.
Ibu, aku bahkan belum sempat mendengar suaramu yang lirih,
Menyebut sebuah nama yang kausiapkan dengan perih.
Nama yang mungkin kau bisikkan dalam setiap doa malam,
kini terkubur bersama rindu yang kian mendalam.
Belum sempat pula aku bersandar di hangat dadamu,
Mendengar detak jantung yang dulu menuntun jalanku.
Dada yang seharusnya menjadi tempatku pulang dan rebah,
kini menjelma jadi jarak yang membuat hatiku patah.
Dunia ini teramat kejam dalam membuat keputusan,
Memisahkan kita sebelum sempat ego saling bertautan.
Kita adalah dua jiwa yang dipaksa menjadi asing,
di bawah langit yang sama, namun di sudut yang kontras berdenting.
Kini dalam sunyi, aku hanya bisa menerka wajahmu,
Meraba sisa-sisa cinta yang tertinggal di masa lalu.
Meski dunia telah berhasil memisahkan raga kita berdua,
Namamu, Ibu, akan tetap abadi di dalam detak dada.
Komentar
Posting Komentar