Simfoni Bambu dan Lumpur
Di ujung jalan setapak yang berdebu,
Kenangan lama memanggil namaku,
Tentang sebuah desa di peluk rindu,
Tempat waktu berjalan malu-malu.
Sawah membentang hijau permadani,
Pematangnya licin dipijak kaki,
Tanpa alas kita berlari-lari,
Mengejar capung di bawah matahari.
Angin berbisik di antara padi,
Membawa aroma tanah yang murni,
Tak ada beban di dalam hati,
Hanya tawa yang tak kunjung terhenti.
Di pinggir kali yang jernih airnya,
Kita berenang tanpa ada rahasia,
Melompat dari dahan pohon tua,
Mencari ikan di sela bebatuan gua.
Bambu dipotong menjadi bedil,
Pelurunya kertas atau buah kancil,
Kita berperang bak pahlawan kecil,
Meski dunia terasa begitu mungil.
Ingatkah kau pada pletokan sakti?
Suaranya nyaring membelah sunyi,
Dibuat dengan segenap hati,
Mainan mewah di masa itu hari.
Ada rautan kayu menjadi gasing,
Berputar kencang tak kenal pening,
Di atas tanah kita bertanding,
Sorak sorai bergema nyaring.
Mobil-mobilan dari kulit jeruk bali,
Atau kayu sisa yang tak terpakai lagi,
Ditarik benang menyusuri kali,
Bahagianya tulus tak bisa dibeli.
Pelepah pisang menjadi kuda,
Kita berpacu laksana ksatria,
Tanpa layar, tanpa baterai nyawa,
Hanya imajinasi yang tak berhingga.
Egrang bambu menjulang tinggi,
Melatih keseimbangan di atas kaki,
Jatuh dan bangun hal biasa terjadi,
Luka di lutut jadi tanda berani.
Layang-layang dari bilah bambu,
Kertas minyak berwarna biru,
Benang gelasan memotong rindu,
Terbang tinggi di langit yang syahdu.
Malam tiba lampu minyak berpijar,
Bayangan di dinding tampak berjajar,
Dongeng nenek buat hati bergetar,
Tentang raksasa dan hutan yang samar.
Kini pematang berganti beton,
Sawah hijau hilang ditelan pohon,
Pohon baja dan gedung yang menonton,
Keheningan desa kini sudah sinkron.
Mainan bambu lapuk dimakan usia,
Terganti gawai yang menyita jiwa,
Anak-anak kini sibuk di dunia maya,
Lupa rasanya menyentuh tanah raya.
Tak ada lagi suara pletokan,
Atau gasing kayu yang diperebutkan,
Semua tersimpan dalam ingatan,
Menjadi artefak masa keemasan.
Sungai jernih kini keruh dan lesu,
Tak ada lagi anak yang menceburkan diri di situ,
Zaman bergerak begitu menderu,
Meninggalkan kita di masa yang lalu.
Ingin rasanya kembali sebentar saja,
Menghirup udara tanpa polusi raga,
Bermain lumpur tanpa rasa jaga,
Bersama kawan lama yang kini entah di mana.
Namun waktu adalah panah yang lepas,
Tak bisa ditarik kembali ke bekas,
Kenangan ini biarlah jadi napas,
Penghias hati yang mulai terasa ampas.
Terima kasih masa kecil yang sederhana,
Kau ajarkan arti bahagia yang nyata,
Bukan dari harta atau benda semata,
Tapi dari alam dan tulusnya sapa.
Kusimpan bambu dan kayu di sanubari,
Sebagai harta yang paling abadi,
Meski dunia kini tak lagi sama lagi,
Desa itu tetap hidup di dalam mimpi.
Komentar
Posting Komentar