Sekuntum bunga di sebuah gurun
Di hamparan jingga yang membakar cakrawala,
Tumbuh ganjil sesosok merah muda yang fana,
Kelopak halus meraba angin penuh debu,
Mencari sejuk di antara pasir yang menderu.
Tiada sungai mengalir, hanya fatamorgana,
Namun ia tegak menantang sang surya,
Mahkota rapuh yang menyimpan sisa embun,
Di negeri yang tak kenal musim yang berpantun.
Akar-akar mencari celah di balik cadas,
Menahan perih dari terik yang bernapas,
Ia bukan mawar gurun yang penuh duri,
Hanya pendatang asing yang rindu menyendiri.
Malam datang membawa dingin yang menyayat,
Sakura membeku, kelopaknya kian berat,
Ia merindukan salju dan gunung yang tinggi,
Bukan kesunyian luas yang tak bertepi.
Sebelum fajar menyentuh ufuk yang gersang,
Ia gugur pelan, menari ditiup gelombang,
Menjadi noktah indah di perut sahara,
Sebuah mimpi singkat tentang musim yang segera.
Komentar
Posting Komentar