Cahaya yang Setia
Di panggung dunia yang bising dan silau,
Banyak raga berlomba mencuri pandang.
Mengejar puncak, memburu kilau,
Hingga lupa arah jalan pulang.
Tak perlu kau menjadi surya yang garang,
Yang membakar apa pun yang ia sentuh.
Sebab yang paling megah dan paling terang,
Seringkali habis dan jatuh merapuh.
Cukuplah menjadi pelita di sudut sepi,
Yang cahayanya tenang merayap di dinding.
Tak menyilaukan mata, tak tinggi hati,
Namun menemani saat malam makin hening.
Biarpun redup di tengah badai yang menderu,
Asalkan sumbumu tak pernah menyerah.
Lebih baik kecil namun tetap biru,
Daripada besar lalu menjadi abu yang musnah.
Sebab hidup bukan soal siapa yang paling pijar,
Tapi tentang siapa yang bertahan dalam kelam.
Yang meski kecil tetap teguh berpijar,
Menjaga asa agar tak pernah padam.
Jadilah abadi dalam kesederhanaanmu,
Seperti bintang jauh yang konsisten bersemi.
Cahaya redupmu adalah bukti baktimu,
Menghangatkan jiwa hingga akhir hari.
Komentar
Posting Komentar