Di Ujung Langkah Pada Ujung Senja

Di batas cakrawala yang mulai merona,

Warna jingga jatuh perlahan di atas duka.

Andai ini saatnya kita purna,

Biarlah sunyi yang bicara betapa kita berharga.


Langkah yang dulu tegap berlari,

Kini mulai berat menyentuh bumi.

Namun detak jantung tak pernah berganti,

Masih menyebut namamu dalam setiap sepi.


Senja ini tak membawa takut di dada,

Meski cahaya mulai undur dari raga.

Sebab aku tahu di mana tempatku bersandar,

Pada hatimu yang tak pernah membiarkanku terpental.


Tak ada ragu yang menyelinap masuk,

Saat raga ini perlahan mulai membungkuk.

Aku tetap milikmu, utuh dan tak terbagi,

Hingga napas terakhir menjemput pagi yang abadi.


Dan kau tetap milikku, pelabuhan terakhir,

Di tengah badai dunia yang tak pernah berakhir.

Bukan karena janji yang tertulis di atas kertas,

Tapi karena jiwa kita yang memang sudah selaras.


Biarkan malam menyelimuti pandangan mata,

Menghapus bayang-bayang yang fana.

Di dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun,

Cinta kita adalah lentera yang tak kunjung ampun.


Maka usai sudah perjalanan panjang ini,

Sampai ke titik di mana matahari berhenti.

Tanpa sesal, tanpa tanya, tanpa ragu tersisa,

Bahwa selamanya, kita adalah satu dalam semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA