Tanpa Ragu, Masih Kamu
Di antara detik yang terus menderu,
aku berdiri di persimpangan yang bisu.
Melihat bayangmu memudar di ujung jalan,
namun langkahku enggan mencari tepian.
Karna waktu telah banyak mencuri,
warna di pipimu, serta tawa yang paling murni.
Namun di hatiku yang resah,
namamu adalah satu-satunya doa yang tak pernah salah.
Jika hidup datang membawa ribuan tanya,
tentang siapa yang paling pantas bertahta,
aku tak butuh waktu untuk menimbang rasa,
sebab kaulah jawaban yang menetap selamanya.
Ada pilu yang terselip di sela jemari,
saat menyadari kau tak lagi di sisi hari.
Tapi memilihmu adalah luka yang paling indah,
tempat hatiku pulang dan berhenti menyerah.
Tak ada keraguan dalam kalimat yang terbata,
meski jarak kini menjadi jurang yang nyata.
Biarlah waktu berlalu mengejar usianya sendiri,
namamu telah kukunci, takkan mungkin kulepas pergi.
Maka jika nanti senja bertanya tentang setia,
aku akan menunjuk jejak kita yang rahasia.
Tanpa ragu, meski dunia kembali memburu,
dalam hidup ini, aku tetap memilihmu.
Komentar
Posting Komentar