Andai kau tahu
Di balik senyum yang kupaksakan merekah,
Ada perih yang tak sempat kau raba,
Langkahku menjauh dengan sisa tenaga,
Padahal jiwaku tersungkur di ambang hampa.
Andai kau tahu betapa riuhnya tangis,
Di dalam dada yang tampak begitu tenang,
Setiap detak jantung terasa begitu bengis,
Menghujam perih saat bayangmu mulai hilang.
Aku berpura kuat di hadapan matamu,
Seolah perpisahan ini bukan sebuah luka,
Namun langit runtuh tepat di atas bahuku,
Saat punggungmu mulai menjauh dari muka.
Hati ini teriris sembilu yang tak kasatmata,
Berdarah tanpa warna, sakit tanpa suara,
Aku adalah sandiwara paling sempurna,
Mencoba tegar di tengah badai sengsara.
Jangan sangka langkahku seringan kapas,
Sebab di tiap pijakan ada beban yang berat,
Napas yang kuhirup terasa begitu ampas,
Menyesakkan rongga yang kini terasa sekarat.
Dinginnya sunyi kini menjadi kawan setia,
Menertawakan aku yang pandai bersandiwara,
Sakitnya melepasmu sampai didada,
Hingga nafasku pun terasa penuh bara.
Aku merangkai kata seolah aku merelakan,
Namun jemariku gemetar menahan segalanya,
Semua ketabahan ini hanyalah bualan,
Untuk menutupi hancur yang tak ada obatnya.
Kini biarlah lukaku ini tetap menjadi rahasia,
Terkunci rapat di balik dinding dadaku,
Sebab melihatmu pergi dengan percaya,
Adalah satu-satunya cara menjaga harga diriku.
Komentar
Posting Komentar