Dermaga di Antara Dua Badai

Di kiri ayah ibu berdiri dengan tatapan tanpa kata,

Di kanan istri menatap dengan lara yang tak terkira.

Aku tegak mematung bagai tiang yang kaku membisu,

Bagai memandang awan hitam yang menikam di kalbu.


​Mereka adalah akar tempatku dulu tumbuh mendewasa,

Namun kini hanya tatapan tanpa makna.

Dulu mereka tempatku mengadu segala keluh dan kesah,

Kini mereka membuat batinku menjadi resah.


​Lalu di sisiku ada belahan jiwa,

Membawa beban kecewa yang merona.

Ia yang kupilih untuk berjalan beriringan selamanya,

Kini terjepit dalam konflik yang meluruhkan senyumnya.


​Aku berdiri tepat di tengah pusaran angin yang hebat,

Mencoba menjadi perisai meski jiwaku mulai sekarat.

Ingin kulerai namun lidahku terkunci rapat,

Menjaga dua sisi agar tak ada yang merasa dikhianat.


​Kepalaku pening memikirkan cara untuk mendamaikan,

Sebab setiap langkah seolah hanya membawa penyesalan.

Jika kupilih satu, maka yang lain akan merasa tersisih,

Meninggalkan luka hati yang kian perih.


​Namun kulihat wajah kecil tertidur dengan begitu lelap,

Merekalah cahaya di tengah duniaku yang kian gelap.

Demi anak-anakku, aku harus tetap kuat bertahan,

Meski pundak ini hampir patah memikul beban.


​Jangan sampai mereka mendengar guntur yang bersahutan,

Biarlah hanya pelukanku yang mereka rasa sebagai kekuatan.

Aku akan menjadi dinding yang meredam setiap bentakan,

Agar mimpi indah mereka tak sedikit pun terganggu tekanan.


​Biarlah aku yang berdarah tertusuk duri-duri tajam,

Asal masa depan mereka tak berubah menjadi kelam.

Kusembunyikan tangis dalam senyum yang tampak tenang,

Walau di dalam dada, badai ini tak pernah menang.


​Wahai Sang Pemilik Hati, berilah aku sedikit ketabahan,

Menghadapi peliknya bakti dan cinta yang penuh ujian.

Jangan biarkan kapal ini karam ditelan ombak yang liar,

Sebelum aku melihat tunas-tunas kecilku tumbuh bersinar.


​Aku hanyalah manusia yang merindu sebuah kedamaian,

Di mana tawa kembali hadir menggantikan pertikaian.

Hingga saat itu tiba, aku akan terus menjaga di sini,

Menjadi dermaga paling sunyi di antara badai yang mengitari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA