Di Bawah Langit yang Memucat
Di ufuk timur warna kian memudar,
Membawa dingin yang mulai menjalar.
Aku berdiri di batas sunyi yang panjang,
Melihat cinta yang perlahan-lahan hilang.
Bermandikan dinginnya embun pagi,
Kurasakan perih yang tak kunjung pergi.
Tetesnya jatuh menyentuh kulit yang lelah,
Membasuh sisa-sisa janji yang tumpah.
Dahulu fajar adalah pelukan yang hangat,
Tempat kita menyatukan doa dan niat.
Namun kini kabut menutup jalan pulang,
Meninggalkan rindu yang kini terbuang.
Embun itu bening, namun terasa tajam,
Menusuk relung hati yang kian menghitam.
Ada sesuatu yang mati di dalam dada,
Saat cahaya mulai menampakkan noda.
Cinta yang dulu membakar bagai bara,
Kini padam terendam tetesan sengsara.
Tak ada lagi api untuk menghangatkan,
Hanya ada dingin yang tak terlukiskan.
Perlahan-lahan rasa itu berganti rupa,
Dari pemujaan menjadi luka yang merupa.
Setiap tetes air yang jatuh di atas daun,
Membawa benci yang tumbuh bertahun-tahun.
Aku benci bagaimana mentari mulai naik,
Menyingkap topengmu yang dulu tampak baik.
Dingin ini bukan sekadar cuaca yang lewat,
Tapi pengkhianatan yang terukir dengan kuat.
Kasih sayang kini menjadi abu yang kelabu,
Tertiup angin pagi di antara deru.
Wajahmu yang dulu adalah arah tujuanku,
Kini jadi bayang yang paling ingin kujauhkan dariku.
Embun pagi ini telah merubah segalanya,
Menyapu kasih hingga tak bersisa maknanya.
Cinta telah luruh bersama embun yang jatuh,
Menjelma benci yang membuat hati ini runtuh.
Biarlah pagi ini menjadi saksi yang bisu,
Tentang hati yang kini membeku dan kaku.
Di bawah langit yang mulai membiru terang,
Cinta kita mati, dan benci yang menang
Komentar
Posting Komentar