Dermaga Kesetiaan

Kita bagai dua perahu kecil yang dilepas,

Mengarungi luasnya samudera tanpa batas,

Berlayar di lautan yang tak selalu biru,

Menjemput fajar, meninggalkan masa lalu.


Bukan soal siapa yang paling kuat mendayung,

Atau siapa yang lebih dulu mencapai ujung,

Tapi siapa yang tetap erat menggenggam tangan,

Saat badai datang membawa kegelapan.


Sebab ombak tak selamanya berbisik tenang,

Ada kalanya ia datang dengan amarah meradang,

Di sanalah letak arti dari sebuah janji,

Bukan sekadar kata yang terucap di bibir sepi.


Cinta itu nyatanya bukan hanya soal rasa,

Ia adalah ujian panjang bagi sang waktu dan usia,

Tentang bagaimana dua jiwa tetap searah,

Meski arah angin memaksa kita menyerah.


Saat godaan datang menyamar sebagai bahagia,

Membujuk hati dengan warna yang lebih menyala,

Ingatlah kembali pada sebuah pelabuhan tua,

Tempat kita membangun mimpi dengan air mata.


Kesetiaan bukanlah diam tanpa sebuah pilihan,

Melainkan memilih bertahan di tengah keraguan,

Menolak berpaling pada cahaya yang fana,

Demi menjaga api yang tulus di dalam dada.


Lautan ini luas, penuh dengan rahasia,

Kadang tenang, kadang penuh marabahaya,

Namun selama kemudi kita masih satu,

Tak ada karang yang sanggup menghentikan laju.


Hingga nanti matahari tenggelam di cakrawala,

Dan layar kita mulai lelah termakan masa,

Kita akan tersenyum di pelukan senja yang tenang,

Sebab kita menang, bukan sekadar untuk dikenang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA