Di Ujung Cerita
Jika mentari esok tak lagi menyapa mataku,
Dan namaku hanya menjadi gema di ruang tamu,
Jangan biarkan kakimu terpaku di lantai yang sunu,
Sebab aku telah pulang ke balik cakrawala yang biru.
Bila namaku kini hanyalah sebuah deretan kata,
Tertulis di atas nisan atau terselip di antara doa,
Kumohon, jangan biarkan dirimu tenggelam air mata,
Hingga kau lupa cara melihat indahnya semesta.
Aku hanyalah sebuah bab yang telah usai ditulis,
Dalam buku kehidupan yang kadang manis, kadang miris.
Jangan biarkan duka membuat batinmu terkikis,
Hingga senyummu yang indah perlahan habis.
Ingatlah kepakan tawa yang pernah kita bagi,
Saat dunia terasa ringan dan beban lari bersembunyi.
Simpanlah hangatnya mentari yang kuberikan di pagi hari,
Bukan dinginnya hujan saat aku harus melangkah pergi.
Luka ini hanyalah selaput tipis yang akan luruh,
Jangan kau biarkan ia tumbuh menjadi rapuh.
Ingatlah genggaman tangan yang membuatmu tangguh,
Saat badai datang dan membuat langkahmu keruh.
Aku tak ingin dikenang sebagai sebuah lara,
Atau duri yang tertancap di tengah dada.
Jadikanlah bayangku sebagai teman dalam kembara,
Penyulut api saat jiwamu merasa kedinginan dan hampa.
Duniamu masih luas, masih banyak warna menanti,
Jangan berhenti melangkah hanya karena aku berhenti.
Biarlah cerita kita menjadi melodi yang abadi di hati,
Yang menuntunmu pulang saat kau mulai merasa sangsi.
Hiduplah dengan hebat, seperti yang selalu kupinta,
Bawa senyumku dalam tiap napas dan tiap karsa.
Sebab meski raga ini tak lagi bisa kau raba,
Kasihku tetap tinggal, dalam tiap detak yang ada.
Komentar
Posting Komentar