Libur yang Tak Berarti
Kalender merah hanya warna di dinding,
Tak ada riuh, tak ada sapa yang penting.
Jendela terbuka namun udara terasa asing,
Hanya sunyi di kepala yang seperti gasing.
Layar ponsel menyala, memamerkan tawa orang,
Sementara aku terjebak di kamar yang remang.
Rencanaku hilang sebelum sempat mengembang,
Hanyut ditelan malas yang datang bergelombang.
Secangkir kopi mendingin tanpa sempat diteguk,
Waktu merayap pelan, membuat punggung ini membungkuk.
Bukan istirahat yang kudapat, melainkan sesak yang memupuk,
Di antara bantal dan guling yang kian membusuk.
Langkah kakiku tertahan di ambang pintu rumah,
Ingin pergi, tapi tak ada tujuan yang terarah.
Libur ini bagai kertas kosong yang salah,
Hanya putaran waktu yang terus berputar tanpa lelah.
Senja datang tanpa membawa rasa syukur,
Menutup hari yang hambar dalam liang kubur.
Besok kembali pada kerja yang teratur,
Membawa sisa libur yang tak bisa melebur.
Komentar
Posting Komentar