Langkah Sang Perindu

 Di ufuk timur fajar menyapa pelan,

Kutinggalkan hangat selimut di balik pintu,

Bukan karena paksa atau sekadar ikutan,

Tapi rindu yang menggerakkan setiap sendiku.


Debu jalanan menjadi saksi bisu,

Sepatu usang menapak di atas aspal dingin,

Di kepalaku tak ada lagi hiruk-pikuk palsu,

Hanya satu nama yang ditiupkan oleh angin.


Kubersihkan diri dengan air yang suci,

Membasuh wajah dari penat dunia yang fana,

Setiap tetesnya meluruhkan rasa benci,

Menyiapkan jiwa untuk sujud yang bermakna.


Tak kubawa beban jabatan atau harta,

Semua kutinggalkan di ambang gerbang,

Sebab di hadapan-Mu, aku hanyalah hamba,

Yang datang dengan ketaatan yang tak bimbang.


Langkah demi langkah semakin mendekat,

Kubah dan menara mulai tampak di pelupuk mata,

Ada getaran halus yang terasa begitu pikat,

Menghapus lelah, menggantinya dengan cinta.


Angin pagi berbisik di sela-sela dedaunan,

Menemani niat yang bulat di dalam dada,

Aku datang bukan untuk mencari pujian,

Hanya ingin tenang di bawah naungan-Mu saja.


Suara panggilan itu berkumandang syahdu,

Memanggil jiwa-jiwa yang haus akan cahaya,

Langkahku semakin ringan, hatiku semakin padu,

Melepaskan diri dari segala tipu daya.


Di pintu masuk, kulepas alas kaki,

Simbol menyerah pada kebesaran Sang Pencipta,

Tak ada lagi aku, tak ada lagi gengsi,

Hanya kepasrahan yang memenuhi semesta.


Harum wewangian menyambut di ruang utama,

Teduh terasa meresap hingga ke tulang,

Niat yang tulus kini menemukan muaranya,

Tempat di mana segala resah akan hilang.


Kini kutundukkan kepala dengan penuh khidmat,

Memulai percakapan dalam hening yang dalam,

Perjalanan ini adalah sebuah nikmat,

Menuju cahaya-Mu di tengah gelapnya alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA