Jaring Ayah dan Langkah Kecilku

Tangan kekar itu menggenggam pangkal jaring,

Menyampirkan jala di bahu dengan gagah perkasa.

Aku mengekor di belakang, melompat di batu guling,

Membawa ember plastik, harta karun kita sementara.


Sungai itu kecil, airnya bening membasahi mata kaki,

Berbisik di sela kerikil dan lumut yang menari.

"Diam sejenak," bisik Bapak sambil berdiri beraksi,

Menunggu riak perak muncul di permukaan hari.


Lalu jala itu mengembang, seperti payung raksasa di udara,

Jatuh mengepung arus dengan suara yang mesra.

Aku berlari mendekat, tak sabar melihat isinya,

Ikan-ikan kecil menggelepar, berkilau seperti permata.


Ada lunjar, lawak bahkan lele pun ikut melompat-lompat,

Masuk ke dalam ember yang kupeluk dengan erat.

Bapak tersenyum, mengusap kepalaku yang basah,

Bahagia itu sederhana, tak perlu mewah atau susah.


Kini sungai itu mungkin telah berubah rupa,

Atau jala Bapak sudah lama tergantung tua.

Namun setiap kali aku mendengar gemericik air mengalir,

Aku selalu merasa kembali menjadi bocah kecil yang mahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah di Bawah Terang

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

TAKKAN ADA