Di Ambang Pematang, Kita Pernah Abadi
Di sana, di mana jam dinding tak punya kuasa,
kita pernah menjadi raja atas tanah berlumpur.
Berlari di antara barisan padi yang merunduk malu,
mengejar capung yang menari di sela aroma tanah basah,
dan mentari sore yang jatuh pelan di pundak kita yang kecil.
Pematang sawah adalah saksi bisu,
tentang tawa yang pecah tanpa beban hari esok.
Kaki-kaki mungil kita yang dekil oleh lempung,
tak pernah takut pada duri atau panas yang menyengat,
sebab petualangan lebih berharga dari sekadar luka.
Lalu kita akan singgah di pelukan sungai kecil itu,
beningnya seperti kaca yang memantulkan wajah-wajah polos.
Byur! Kita melompat, menantang arus yang tenang,
merasakan dingin yang menjalar, menyapu peluh dan debu.
Ikan-ikan kecil berlari di antara jempol kaki kita,
ikut merayakan riuh yang tak akan pernah terulang lagi.
Kini, sungai itu mungkin tak sebening dulu,
dan sawah-sawah telah berganti menjadi dinding batu.
Tapi di dalam kepala ini, kalian masih di sana:
berteriak girang, basah kuyup, dan penuh nyawa.
Sebab meski waktu mencuri raga kita untuk dewasa,
ia tak pernah bisa menyentuh rumah yang kita bangun di dalam ingatan
Komentar
Posting Komentar