Butir Kaca di Bawah Rindang
Di bawah kanopi bambu yang berbisik pelan,
Kita duduk bersila, beralaskan tanah yang dingin.
Udara sejuk menyelinap di antara celah batang,
Membawa aroma tanah basah dan sisa hujan kemarin.
Ada gundu-gundu kaca di telapak tanganmu,
Bening berkilau, menyimpan pelangi di dalamnya.
Jari jemarimu lincah, membidik dengan satu mata tertutup,
"Klik!"—suara benturan itu adalah musik paling merdu pada masanya
Kita tak butuh layar, tak butuh dunia yang bising
Hanya lubang kecil di tanah dan garis batas yang miring
Kalah atau menang, tawamu tetap pecah berderai
Terbang bersama helai daun bambu yang jatuh menjuntai
Kini pohon itu mungkin sudah menebal atau tiada
Dan kelereng kita mungkin terkubur di akar yang tua
Namun di bawah bayang teduh ingatan ini,
Kita masih anak kecil yang tak ingin pulang, hingga senja menanti.
Komentar
Posting Komentar