Gema Tawa di Beranda
Di sudut teras, ayah dan ibu duduk bersandar
Melihat sisa senja dengan senyum yang berpijar
Lelah di pundak luruh saat melihat kami berkumpul
Cinta mereka adalah akar, tempat rindu saling memukul
Melihat sisa senja dengan senyum yang berpijar
Lelah di pundak luruh saat melihat kami berkumpul
Cinta mereka adalah akar, tempat rindu saling memukul
Mertua hadir membawa petuah dalam canda
Bercerita kisah lama yang membuat kami terpana
Tak ada sekat, hanya kasih yang kian merekat
Dua keluarga melebur dalam satu pelukan hangat
Istriku tersenyum, binar matanya sebening embun
Menyuguhkan teh hangat di sela riuh yang beruntun
Ia adalah napas bagi rumah yang penuh nyawa
Menjaga harmoni tetap hidup dalam detak jiwa
Si kecil, anakku, berlarian mengejar bayangan
Tawanya lepas, memenuhi ruang tanpa beban
Ia adalah harapan yang tumbuh di antara tawa kita
Alasan mengapa setiap hari layak menjadi cerita
Adik terpingkal menceritakan konyolnya masa lalu
Membongkar rahasia lama yang membuatku tersipu malu
Di sebelahnya, kakak ipar menimpali dengan kelakar
Persaudaraan kami adalah pohon yang takkan pernah pudar
Keluarga lainnya datang membawa riuh yang nyata
Paman, bibi, dan sepupu, semua punya sejuta warta
Teras yang sempit terasa luas oleh rasa bahagia
Sebab cinta adalah lantai yang menopang kaki kita
Komentar
Posting Komentar