Postingan

Lelah di Bawah Terang

Pagi datang terhampar permadani cerah Membawa nyanyian burung dengan janji yang tak bersalah Jendela terbuka angin sejuk menyapa lembut Namun di balik kelopak mata kelelahan terajut Aku lelah tapi dunia enggan meredupkan panggung Meminta peran serta meski jiwa terasa kosong Bahu ini berat menopang beban tanpa nama Menatap sinar mentari hati tak merasa gembira Malam pun tiba dengan kerudung hitam yang tak menjemukan Sebab di sana rembulan benderang memamerkan senyuman Cahayanya tumpah ruah putih murni tak terhalang Seolah mengejek betapa pilu hati yang kini terpasang Aku ingin sembunyi di sudut yang gelap dan sunyi Di mana lelah ini tak perlu berpura-pura berdiri Namun fajar menyala dan bulan pun tak mau sembunyi Terang benderang semesta kontras dengan hati yang mati Di antara terik pagi dan rembulan yang menawan Aku hanyalah seonggok raga yang ingin rebah dan tenggelam Lelahku nyata meski semua bersinar tanpa cacat Sebuah kesedihan tersembunyi di balik semesta yang begitu hebat

Kebahagiaan di Hamparan Sajadah

Sajadah terhampar bukan sekadar alas shalat Namun panggung sunyi tempat hati bersatu erat Di sinilah sebuah keluarga menemukan sumber bahagianya Bukan pada tawa yang riuh, tapi pada khusyuk yang sempurna Saat senja tiba atau fajar menyapa Ayah menjadi imam suaranya membawa cinta Serta sang ibu yang merangkai doa dengan air mata harap Dan si kecil menirukan belajar arti hidup yang mantap Saf yang rapat melambangkan ikatan yang tak terputus Bahu bertemu bahu menghilangkan segala putus asa Dalam setiap rukuk dan sujud yang serentak Tercipta harmoni abadi yang membuat jiwa bergerak Di atas sajadah ini tak ada lagi beda pangkat Semua sama di hadapan-Nya mencari rahmat Doa yang terucap bersama menjadi benih berkah Menyiram kebahagiaan yang tumbuh tak pernah lelah Setelah salam tangan saling menggenggam hangat Mencium punggung tangan simbol kasih yang terawat Inilah rumah sesungguhnya yang berpondasi iman Keluarga bersatu dalam naungan ketenangan Sajadah menjadi saksi puncak sukacita sejati S...

TAK PASTI

Tertutupkah Hatimu Menerima hadirku dimimpimu Sekeras apakah hatimu Hingga tak mampu kululuhkan Kemanakah lagi kumencari Seorang tamatan hati Mungkinkah ini ujian.. ? Atau kau memang tak hiraukan Ku tak sanggup lagi Mengejar arti hatimu Aku lelah..

TIGA CINTA

Menebuh dinding Beralas kelopak sendapati.. Yang deru suara banyu Singsipan, penerang hati Buaikan randu kawan sejagat Terbagi dua peminat harpa Antara dua peminang Sepuh, meringik pedih.. Satu harpa telah terbagi

HAMPA HATI

Di    sini.. Di   suatu   keramaian Tak   terbelit   dalam   raga Terhampar   kesunyian   hati Hanya   pandang   gelap   yang   terjadi Meski   sinarmu   menemani Rasa  ingi n   dan   harap  telah   hilang Tertelan   bisik   resah Bagaikan menebuh   dinding Beralas   kelopak   sendapati Yang   deru   suara   banyu Singsipan  penerang   hati Buaikan   randu kawan   sejagat Terbagi dua peminat   harpa Antara   dua   peminang.. Sepuh   meringik   pedih.. Satu   harpa   telah   terbagi

TAKKAN ADA

Setiap   waktuku Kan   selalu   memanggil   namamu Setiap   nafas   ini Ku   selalu   menunggu   hadlrmu Bila  i tu   terjadi Rasa  i ndah   akan   menantiku Namun   ini   hanyalah   harap   belaka Yang   takkan pernah   ada Rasa  i ndah  untuk bisa  bersamamu Karena   kutahu Semua   telah   hilang   terhempas   sang   waktu

SUNGAI KENANGAN

Di sini.. Di sungai Batang Hari Ku telah jauh darimu Telah jauh mimpiku tentangmu Dan telah jauh dari harapmu Aku tak mungkin lagi Untuk menggapaimu Karena aku takkan lagi melihat senyummu Tapi sungai ini  Menjadi kenangan terindah Untuk melupakanmu